13.2.13

BERDIALOG DENGAN MUSIK

Oleh: Muhammad Mahrus

Kali ini Gus Zaki tampak termenung sendiri, seperti biasa. Sementara aku sendiri belum berani menanyakan sesuatu perihal diamnya itu. Aku hanya berusaha sesabar mungkin mununggu apa yang hendak disampaikannya padaku. Sesaat kemudian ia mengajakku pindah duduk ke beranda rumahnya. Aku menurut. Benar saja. Setelah kami pindah, ia mulai mengajakku diskusi, lagi.
Musik, katanya, kini sedang mengusik hatinya setelah pada kesempatan kemarin hari ia mengajakku mendiskusikan syair. Meski entah apa yang membuat hatinya tertarik, aku mencernanya dan mengiyakannya karena aku juga tertarik.
Musik sudah menjadi bagian dalam segala aspek kehidupan masyarakat kita. Mulai dari sebagai ekspresi hingga media propaganda akan suatu kepentingan. Dalam hal ini, masyarakat kita sudah menjadi titik kulminasinya, yakni pasar dari berbagai kepentingan. Sementara musik menjadi salah satu media penyampaian propaganda tersebut. Padahal musik memiliki eksistensi dan nuansa estetis tersendiri.

12.2.13

REBUT TANAH LELUHUR


Muhammad Mahrus*

”Turun mana, Mas?” kondektur bus ekonomi yang kutumpangi bertanya padaku sambil memegang karcis yang ia siapkan. Cara yang sudah tak asing lagi bagi kondektur bus untuk minta ongkos pada penumpangnya.
Akupun langsung merogoh saku baju yang kukenakan. Dari awal aku memang sudan memparsiapkan uang buat ongkos di saku itu. Dompet juga kubawa serta, namun aku lebih suka menaruh uang di saku celana atau baju. ”Langsung Arjosari, Mas.” Kataku sambil mengulurkan uang dua puluh ribuan pada kondektur itu. Karcis diberikan padaku bersama kembaliannya. ”Makasih.” Kataku lagi. Dan kondektur itu melanjutkan tugasnya pada orang yang duduk di sebelahku. Kudengar, katanya ia juga mau turun di terminal yang sama denganku. Setelah mereka selesai transaksi, kami pun berkenalan dan kemudian ngobrol sedikit untuk basa-basi.

11.2.13

SELAMATKAN ANAK INDONESIA DARI KEKURANGAN KOPI


Oleh: Muhammad Mahrus*

BLANDONGAN… Begitulah mereka menyebutnya. Setidaknya sebutan itu memang sudah tertera di gerbang utama tempat anak-anak biasa nongkrong sambil ngobrol ngalor-ngidul. Dari pusat keramaian, tempat itu masih bisa dikatakan jauh dan perlu sedikit perjuangan untuk mencapainya. Jika berada di posisi tenggaranya, maka masih harus melalui daerah aliran sungai, lalu menyusuri rel kereta api.
            Tapi jangan salah. Di sana, anak-anak yang nongkrong tidak semata-mata ngobrol hal-hal tidak perlu. Di semua meja yang bertuan, sebagian besar terdengar perbincangan masalah bisnis dan kegiatan masing-masing. Dengan hanya secangkir kopi, semua masalah terselesaikan.
            "Mau ke Blandongan nggak kau?" ajak Fanin lewat telephon genggamnya.
"Ya iya lah, masa ya-IAIN…!!" jawab  suara di seberang.
"Ok, kita ketemuan di sana lima belas menit lagi."
"Beres."
"Songolikur " kata Fanin lirih dan cepat.

10.2.13

MENGAPA MEMILIH BLANDONGAN?


Oleh: Muhammad Mahrus*

Semenjak keberadaannya, dipercaya Blandongan sudah menjadi salah satu pilihan paling tepat untuk melepas penat bagi kalangan mahasiswa. Pada perkembangannya tidak hanya remaja mahasiswa yang nongkrong di sana. Pelajar, pekerja, dan masyarakat umum sudah mulai memilihnya sebagai tempat istirahat. Persoalan kapan biasanya mereka nongkrong, masing-masing dapat diprediksikan. Secara garis besar, bagi kalangan mahasiswa, jam-jam kosong kuliah adalah waktu yang paling tepat. Entah itu pagi, siang, sore, dan atau bahkan malam hari. Namun bukan berarti mereka lebih memilih kuliah dari pada nongkrong. Jika ditelisik lebih jauh, justru sebagian di antaranya lebih memilih nongkrong dari pada masuk kuliah.
Sementara, bagi kalangan pelajar, kini mulai kelihatan pula. Hal ini tampak karena selain dari style dan rata-rata usianya, mereka dengan tanpa beban nongkrong sesukanya dengan seragam dan atribut lengkap sekolahannya. Pertanyaannya, apakah ini menyalahi aturan? Kemudian apakah relevan kiranya mencari siapa yang salah akan fenomena tersebut? Saya kira biarlah sejarah yang menjawabnya kelak. Karena realitas pendidikan sendiri sudah jauh dari substansinya. Dalam hal ini bukan berarti mengesampingkan term kepentingan untuk menuntut ilmu melalui jalur institusi dan kelembagaan. Sekali lagi, tidak.

9.2.13

अल इज वेल


मुहम्मद मह्रुस

"Hati kami, ternyata pengecut dan itu
membuat kita mudah dikelabui
sehingga jika ada permasalahan dalam hidupmu
katakan pada hatimu,
‘santai…! Semuanya baik-baik saja! aal iz well, aal iz well,’
dan kekuatan bertahan jadi terkumpul"

Setiap kali nonton film, saya cenderung mengamati gagasan yang ingin disampaikan dari film tersebut. Pada saat yang bersamaan, alur dan suasana yang dibangun mulai mendominasi alam bawah sadar saya. Hingga, terkadang, saya harus mengakui keberhasilan dari kerja keras para crew yang mati-matian (dalam bayangan saya) dalam proses produksinya. Sedangkan kesimpulan tentang apa yang menjadi harapan saya sebelum nonton baru akan ada setelah film tersebut selesai.
                Sebagai salah satu bahan pengantar diskusi, selain karena saya kira dari penulis paper yang lain sudah akan memaparkannya juga, pertama saya ingin mengajak para penonton untuk membandingkan antara karya tulis dengan karya visual. Dimana keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri.
Mengenai keterkaitannya sebagai sebuah karya, dua-duanya merupakan “bahasa” sang Mutakallim (baca pula: pemilik ide) yang ingin menyampaikan sesuatu terhadap para pembacanya. Karenanya di dalamnya sudah pasti ada pesan yang ditampilkan sejauh kemampuan bahasanya sendiri. Dalam hal ini, bahasa tulisan cenderung akan lebih menggunakan struktur kalimat dengan menyesuaikannya terhadap kaidah-kaidah tata bahasa dan struktur kalimatnya untuk meyakinkan bahwa apa yang tertulis adalah sebuah “kebenaran”.

8.2.13

TIGA HARI YANG LALU

Sulitnya diriku untuk percaya keadaan
Yang jauhkanku dari cerita percintaan
Dengan dirimu saat di sampingku
Menjadi sendu

Walau awalnya cinta dari bersahabat
Tak ku pungkiri akhirnya aku jatuh cinta
Kaupun merasakan apa yang kurasakan
Tak pernah hampa di jiwa

* Cinta tak mesti slalu bersama
   Dan diriku kini merana

CINTA ABADI YANG TERLUKA

Dinda dengarkan aku
Kita harus bicara
Tentang apa arti kita

Karena memendam perih
Pun hatiku berkata
Inilah saatnya

* segala yang terjadi hanya terucap kata
  dirimu ada di hatiku
  ketika ku tak kuasa jujur seiring waktu
  hingga ku telah bersamanya

AKU BISA

Sejak engkau mendua
Entah apa yang kurasakan
Memendam perih
Menyimpan luka

Mampai pada saat ini
Aku memulihkan rasa di hatiku
Baru aku bisa
Bisa bicara

BILA ENGKAU

Saat indah dalam hidupku
Saat aku bertemu denganmu
Kau anugrah yang tercipta
Begitu nyata

Kau tercantik dalam hatiku
Walaupun orang tak berkata begitu
Ku ingin kau di sampingku
Selamanya…

Bila engkau menerima cintaku
Aku akan setia kepadamu
Karena dirimu yang selama ini
Kucari…

PELANGI

Intro: Em  C  G  D
Em
Indah bening matamu
G
Lembut tatap pandangmu
Bm                               C  
Pesona pancarkan dari jiwamu

Em                               
Anggun gerak tubuhmu
G
Merekah indah bibirmu
Bm                                 C         
Mengusik gejolak hasrat hatiku

WAKTU AKU MANDI

Waktuku mandi, sambil nyanyi nyanyi
Lagu ga’ karuan malah kayaknya kampungan
Lagi asyik nyanyi ada yang memanggil
Aku lempeng aja malah suara makin tinggi

Pintu digedor… kepalaku nongol… astaghfirullah

Reff I:
Pak RW datang bawa polisi
Aku diseret dari kamar mandi
Tanpa handuk, tanpa baju

KAU DAN IBUMU

Tidurlah Nak, malam telah larut
Jangan tunggu ibumu yang tlah kabur
Nanti kalau kau sudah kelas 5
Kita bicarakan semuanya
Antara aku, kau dan ibumu

Berdoa Nak, doakanlah aku
Biar cepat dapat ibu baru
Yang nggak takut kukunya patah
Waktu nyuciin semua popokmu
Juga mandiin dan nyebokin kamu

QURAN AND ISLAMIC STUDIES


Oleh: Muhammad Mahrus


Pendahuluan
Kajian tentang orientalisme sudah dilakukan berulang-ulang sejak dari lahirnya kajian orientalisme sendiri lahir dan mulai berkembang. Di antara sekian banyak literatur, ada yang menyimpulakan bahwa wilayah kajian tersebut bermula sejak zaman daulah Islamiyah di Andalusia (Spanyol). Sebagian menyatakan bermulanya ketika terjadi Perang Salib. Khusus untuk orientalisme ketuhanan, munculnya ditetapkan secara resmi pada saat konsisi Gereja Viena tahun 1312 M. konsisi tersebut diaplikasikan dengan memasukkan mamteri bahasa Arab ke dalam berbagai universitas di Eropa.
Secara spesifik, pada tahun 1130, seorang kepala Uskup Toledo mulai menerjemahkan beberapa buku ilmiah Arab. Sedangkan kajian orientalisme mulai muncul pertama kali di Inggris pada pertengahan abad ke-18, pada tahun 1779. Kemudian Prancis menyusul pada tahun 1799. Sekitar 39 tahun berikutnya, pada tahun 1838, Orientalisme resmi masuk dalam kamus akademi Prancis.

RENDESVOUS

Kali ini, ijinkah aku mulai berjalan-jalan di rumahmu
Melihat sisi-sisi ruang yang barangkali dapat kusinggahi
Menjadi tamumu, yang tak kebetulan mengenalmu
Kelak, akan kita buat rumah sama yang baru

2013

4.2.13

DARI SECANGKIR DAN MEJA-MEJA KOPI

Dua hari yang lalu, di sebuah warung kopi, seorang kawan di meja sebelah berdebat dengan teman semejanya. Pastinya aku tak begitu paham tema perdebatan itu, karena memang begitulah tema perbincangan di secangkir kopi. Dalam semenit, bisa sampai ke Eropa atau Amerika...
Di meja yang lain, bahkan beberapa, mereka bikin kelompok beregu. Masing-masing empat orang. Jika pun lebih, sisanya adalah supporter. Seperangkat alat permainan sudah siap diputar dengan tangan-tangan lincah mereka. Ada intrik-intrik juga di sela permainan. Pun canda yang menurutku terlalu berlebihan. Tapi, masih saja mereka bertahan. Barangkali, itulah ajang kompetisi yang sebenarnya. Atau sebaliknya, mereka sedang mengantarkan diri mereka sendiri pada keterasingan. Pernah beberapa kali aku menjadi seperti mereka. Ya, hanya beberapa kali saja. Mungkin tak sampai lima kali. Meskipun hasrat untuk melakukannya, seringkali muncul ketika melihat mereka.

2.2.13

MALAM UNTUK ISTERIKU*

Oleh : Muhammad Mahrus **

Seorang kakek, yang menumpang menginap di rumahku suatu hari, kutemukan dalam kondisi tak bernyawa, tergantung. Awalnya aku curiga, kenapa hari sudah siang, tapi ia belum juga keluar dari kamar tamu. Waktu kuketuk kamar itu dengan pelan, tak ada jawaban dari dalam. Berulang kali kuketuk, berulang kali pula hanya burung kutilangku dalam sangkar yang menjawab dengan uhu-uhunya. Dengan perasaan gelisah, kuberanikan diri untuk mengetuk pintu itu lebih keras. Namun tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.

Karena tak ada jawaban, aku pun mulai mempertanyakan kejanggalan tersebut. "Pergi tanpa pamit, sangat tidak mungkin, KTP-nya masih ada padaku," pikirku. Lagi pula, katanya, ia hanya dalam perjalanan ke desa sebelah. Karena kemalaman, ia menghampiriku yang kebetulan sedang duduk di teras rumah. Masih sangat jelas dalam ingatanku, "hanya semalam saja," katanya meyakinkanku.