3.11.14

MODERNISME ISLAM INDONESIA


Sebuah Ringkasan Upaya Membaca Indonesia
Oleh: Muhammad Mahrus

Abstraksi
Agaknya, dasar penyusunan penelitian Gerakan Modern Islam di Indonesia oleh Deliar Noer antara lain adalah adanya asumsi di akhir periode 1900-1942 merupakan tahun pergantian kekuasaan di Indonesia dari tangan Belanda ke Jepang. Belakangan, asumsi ini baru benar-benar terlihat dan dapat dibaca justru setelah era kemerdekaan. Sebagai sebuah gerakan, Islam begitu ketara mengawal prosesi kemerdekaan dalam bentuk keterlibatannya dalam gerakan-gerakan sosial dan politik di samping gerakan pendidikannya. Dimana, dari ketiga aspek tersebut terdapat keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Pada perkembangannya, Deliar Noer melihat adanya relevansi antara gerakan Islam pasca kemerdekaan dengan era sebelum 1900. Bahwa, setidaknya terdapat lima kesamaan yang menjadi pemantik pergerakan Islam di era 1900 – 1942.
Pertama, persoalan khilafiyah. Sebagaimana munculnya gerakan-gerakan Islam modern di Negara lain, gerakan modern Islam di Indonesia juga bermula dari persoalan-persoalan ubudiyah. Terkait dengan persoalan pertama ini, Deliar Noer menawarkan dua paradigma yang hari ini telah akrab kita dengar dengan Islam Modern dan Islam Tradisional. Dalam paradigma tersebut, terdapat tiga aspek utama. Yakni, semangat permurnian ajaran; sikap terhadap tradisi bermadzhab; dan, sikap terhadap perubahan dan rasionalitas.
Kedua, sifat fragmentasi kepartaian. Sifat ini sangat terlihat terutama di antara tahun 1920 – 1942. Seiring dengan pertumbuhan partai-partai dari kalangan nasionalis, kita juga dapat membaca sejarah pergolakan politik dari partai-partai Islam seperti PERMI dari Serikat Islam Indonesia (SII), PERTI, PARII, Penyadar, dan PSII Kartosuwirjo.
Ketiga, kepemimpinan yang bersifat pribadi. Kecenderungan ini dapat dilihat terutama pasca kemerdekaan. Dimana para pemimpin gerakan-gerakan ini mulai mengubah organisasinya menjadi partai politik. Jika tidak disetujui oleh sebagian anggotanya, maka ia akan mengajak sebagian yang lain untuk keluar dan mendirikan organisasi lain atau langsung mendirikan partai politik.
Keempat, perbedaan dan pertentangan paham. Hal ini dimaksudkan pada aspek politik dan kebijakan pemerintah. Pertentangan ini begitu jelas ketika Indonesia memasuki era Demokrasi Terpimpin. Sebagian kelompok menolak konsep-konsep yang ditawarkan Presiden Soekarno dan sebagian yang lain menerimanya.
Kelima, hubungan Islam dengan pemerintah. Menurut Deliar Noer, termasuk yang membidani semangat pergerakan nasional adalah Islam. Di sisi yang lain, pemerintahan yang berkuasa pada era sebelum kemerdekaan adalah penjajah. Karenanya harus dilawan. Sementara, dalam beberapa kasus, terkadang kita masih menyepakati bahwa gerakan-gerakan di era sebelum kemerdekaan merupakan bentuk gerakan-gerakan pemberontakan.

Modernisme Islam di Indonesia; Sebuah Perspektif
Membaca sejarah nusantara memang tidak cukup dengan satu sudut pandang atau bahkan dengan kaca mata kuda. Betapa, di dalamnya terdapat banyak hal yang belum tersibak dari himpitan ilmu pengetahuan dan konsepsi epistemologis warisan kolonial. Sementara, sebagian dari kita mengamini begitu saja apa yang sudah terlanjur menjadi konsumsi generasi hari ini. Akan tetapi, barangkali hasil riset dan kerja keras Deliar Noer ini dapat memberikan perspektif dalam sejarah kita. Khususnya di era penghujung pemerintah kolonial Hindia-Belanda berkuasa di nusantara.
Buku setebal 370-an halaman ini mengisi kekosongan-kekosongan lembaran sejarah nusantara yang kemudian mengantarkan kita menjadi bangsa yang berdaulat. Walaupun keutuhan kedaulatan tersebut hingga hari ini masih belum menemukan muaranya. Bahwa, menjelang kemerdekaan Indonesia, lahir tokoh-tokoh dari kalangan Islam yang menjadi pelopor untuk merebut hak dan kedaulatan bangsa seutuhnya. Sebagaimana yang dihadirkan dalam penelitian tersebut, semangat ini (pembaruan) tetap akan terus bergelora dimulai dari kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonial.
Optimisme gerakan ini dapat dilihat dalam pengenalan, pertumbuhan, pemikiran, dan kegiatan pembaruan Islam (BAB I dan BAB II). Secara umum, dalam dua bab tersebut dapat dipetakan ke dalam dua bagian umum. Yakni gerakan pendidikan dan gerakan sosial serta gerakan politik. Dalam pembagian pertama, dijelaskan bahwa gerakan ini lahir dari gerakan-gerakan kecil yang muncul di daerah-daerah seperti gerakan dari kalangan masyarakat Arab dan gerakan dari daerah Minangkabau. Dimana dari gerakan-gerakan kecil itu kemudian melahirkan Syarikat Islam, Perserikatan Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain.
Pada perkembangannya, transformasi informasi mengenai gerakan-gerakan ini dihadapkan pada istilah reformasi. Sehingga acapkali terdapat kerancuan dalam membedakan antara gerakan modernis dan gerakan reformis. Padahal, tidak semua gerakan modernis merupakan gerakan reformis. Selain berbasis organisasi, gerakan reformis melakukan purifikasi dan membangun Islam dengan pikiran-pikiran baru.
Dari organisasi-organisasi yang tersebut di atas, barangkali hanya dua saja yang paling populer dan masih mendapatkan banyak simpati dari masyarakat Indonesia hari ini. Yakni NU dan Muhammadiyah. Walaupun demikian, semangat dari organisasi-organisasi pergerakan lain masih dapat kita rasakan dalam produk-produk pemikiran ke-Islaman kita di Indonesia.
Yang tidak boleh dilupakan juga, rupanya embrio gerakan-gerakan modern tersebut bermula dari daerah-daerah. Belakangan diketahui karena memang peranan dari daerah-daerah memang sangat penting. Terutama penyebaran semangat modernisasi itu sendiri. Dengan atau tidak adanya persamaan latar belakang serta obyek modernisasi dan perbedaan faham dari masing-masing gerakan.
Cita-cita dan semangat modernisme ini bisa jadi berangkat dari latar belakang dan paham yang berbeda. Dari satu daerah dengan daerah yang lain. Atau dari satu organisasi dengan organisasi yang lain. Akan tetapi, secara umum gerakan-gerakan tersebut mencakup aspek sosial dan pendidikan serta aspek politik. Dalam kategori yang pertama, muncul kesadaran untuk membuat sebuah institusi pendidikan sendiri di luar pendidikan yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Katakanlah ketika Muhammadiyah membuat sekolah-sekolah formal untuk masyarakat yang bermula di Jogjakarta. Atau gerakan advokasi para pedagang batik di Solo akibat dominasi para pedagang Cina oleh Serikat Islam. Kemudian pada dekade berikutnya, muncul angin segar dari bagian timur Pulau Jawa, Nahdlatul Ulama, yang menyuarakan hak-hak masyarakat baik dari aspek ekonomi, sosial, hingga aspek spiritual. Adapun dalam hal pendidikan, NU sudah tidak perlu dipertanyakan kembali.  
Dalam perkembangannya, dicatat pula bahwa terdapat pergesekan yang cukup keras antara Muhammadiyah dan NU. Sampai pada 1935, lahir kesadaran bahwa sebenarnya perbedaan antara keduanya hanya di persoalan furu’. Sementara rukun iman dan rukun Islam sama. Sejak saat itu Muhammadiyah dan NU banyak melakukan konsolidasi bersama untuk kepentingan ummat. Persatuan gerakan ini ditandai dengan lahirnya organisasi MIAI (Majelis Islam A’laa Indonesia) pada tahun 1938. Organisasi inilah yang menjadi prasasti modernisme Islam di Indonesia dalam hal politik. MIAI melakukan transformasi pengetahuan Islam dari Fiqh dan Tasawwuf sampai pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan politik. Gerakan ini berjalan sampai dengan lahirnya kedaulatan bangsa Indonesia.
Sebagai penutup, kiranya tidak berlebihan jika penulis menyampaikan pendapat pribadi. Dimana, penulis curiga bahwa peneliti melewatkan fakta sejarah bahwa NU, dengan tradisinya atau kelompok tradisional—sebagaimana yang dilabelkan oleh orientalis dan Indonesianis—adalah anak kandung dari tradisi Nusantara. Pesantren yang sudah ada sejak abad ke-13 di Nusantara telah merekam seluruh aspek yang baru digaungkan dengan istilah modernisme itu sendiri.
Dari awal berdirinya, pesantren sudah mengajarkan berbagai macam teori Filsafat di samping pengajaran fiqh dan tasawwuf. Apalagi pengetahuan tentang ilmu-ilmu sosial, politik dan tata negara. Bagi penulis, jika kita menyetujui bahwa gerakan modernisme Islam di Indonesia baru bermula dari awal abad ke-19, sama artinya dengan kita mengubur jati diri bangsa kita. Di sisi yang lain memang bisa dikatakan wajar karena memang generasi kita hari ini masih mewarisi pendidikan kolonial.
Adanya semangat pembaruan dalam Islam hingga melahirkan Indonesia memang sebuah prestasi besar untuk para pelopornya. Akan tetapi, yang harus disadari adalah bahwa kita masih telalu mengakui superioritas keilmuan warisan kolonial daripada tradisi kita sendiri. Sementara, dinamika sejarah terus akan berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan pada saatnya, tradisi akan menunjukkan ke mana muaranya.[]

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.