Sebuah Ringkasan Upaya Membaca Indonesia
Oleh: Muhammad Mahrus
Abstraksi
Agaknya,
dasar penyusunan penelitian Gerakan Modern Islam di Indonesia oleh Deliar Noer
antara lain adalah adanya asumsi di akhir periode 1900-1942 merupakan tahun
pergantian kekuasaan di Indonesia dari tangan Belanda ke Jepang. Belakangan,
asumsi ini baru benar-benar terlihat dan dapat dibaca justru setelah era
kemerdekaan. Sebagai sebuah gerakan, Islam begitu ketara mengawal prosesi
kemerdekaan dalam bentuk keterlibatannya dalam gerakan-gerakan sosial dan
politik di samping gerakan pendidikannya. Dimana, dari ketiga aspek tersebut
terdapat keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang
lainnya.
Pada
perkembangannya, Deliar Noer melihat adanya relevansi antara gerakan Islam
pasca kemerdekaan dengan era sebelum 1900. Bahwa, setidaknya terdapat lima
kesamaan yang menjadi pemantik pergerakan Islam di era 1900 – 1942.
Pertama,
persoalan khilafiyah. Sebagaimana munculnya gerakan-gerakan Islam modern di
Negara lain, gerakan modern Islam di Indonesia juga bermula dari
persoalan-persoalan ubudiyah. Terkait
dengan persoalan pertama ini, Deliar Noer menawarkan dua paradigma yang hari
ini telah akrab kita dengar dengan Islam Modern dan Islam Tradisional. Dalam
paradigma tersebut, terdapat tiga aspek utama. Yakni, semangat permurnian
ajaran; sikap terhadap tradisi bermadzhab; dan, sikap terhadap perubahan dan
rasionalitas.
Kedua,
sifat fragmentasi kepartaian. Sifat ini sangat terlihat terutama di antara
tahun 1920 – 1942. Seiring dengan pertumbuhan partai-partai dari kalangan
nasionalis, kita juga dapat membaca sejarah pergolakan politik dari
partai-partai Islam seperti PERMI dari Serikat Islam Indonesia (SII), PERTI,
PARII, Penyadar, dan PSII Kartosuwirjo.
Ketiga,
kepemimpinan yang bersifat pribadi. Kecenderungan ini dapat dilihat terutama
pasca kemerdekaan. Dimana para pemimpin gerakan-gerakan ini mulai mengubah
organisasinya menjadi partai politik. Jika tidak disetujui oleh sebagian
anggotanya, maka ia akan mengajak sebagian yang lain untuk keluar dan
mendirikan organisasi lain atau langsung mendirikan partai politik.
Keempat,
perbedaan dan pertentangan paham. Hal ini dimaksudkan pada aspek politik dan
kebijakan pemerintah. Pertentangan ini begitu jelas ketika Indonesia memasuki
era Demokrasi Terpimpin. Sebagian kelompok menolak konsep-konsep yang ditawarkan
Presiden Soekarno dan sebagian yang lain menerimanya.
Kelima,
hubungan Islam dengan pemerintah. Menurut Deliar Noer, termasuk yang membidani
semangat pergerakan nasional adalah Islam. Di sisi yang lain, pemerintahan yang
berkuasa pada era sebelum kemerdekaan adalah penjajah. Karenanya harus dilawan.
Sementara, dalam beberapa kasus, terkadang kita masih menyepakati bahwa
gerakan-gerakan di era sebelum kemerdekaan merupakan bentuk gerakan-gerakan
pemberontakan.
Modernisme Islam di Indonesia; Sebuah Perspektif
Membaca
sejarah nusantara memang tidak cukup dengan satu sudut pandang atau bahkan
dengan kaca mata kuda. Betapa, di dalamnya terdapat banyak hal yang belum
tersibak dari himpitan ilmu pengetahuan dan konsepsi epistemologis warisan
kolonial. Sementara, sebagian dari kita mengamini begitu saja apa yang sudah
terlanjur menjadi konsumsi generasi hari ini. Akan tetapi, barangkali hasil
riset dan kerja keras Deliar Noer ini dapat memberikan perspektif dalam sejarah
kita. Khususnya di era penghujung pemerintah kolonial Hindia-Belanda berkuasa
di nusantara.
Buku
setebal 370-an halaman ini mengisi kekosongan-kekosongan lembaran sejarah
nusantara yang kemudian mengantarkan kita menjadi bangsa yang berdaulat.
Walaupun keutuhan kedaulatan tersebut hingga hari ini masih belum menemukan
muaranya. Bahwa, menjelang kemerdekaan Indonesia, lahir tokoh-tokoh dari
kalangan Islam yang menjadi pelopor untuk merebut hak dan kedaulatan bangsa
seutuhnya. Sebagaimana yang dihadirkan dalam penelitian tersebut, semangat ini
(pembaruan) tetap akan terus bergelora dimulai dari kemerdekaan bangsa
Indonesia dari penjajahan kolonial.
Optimisme
gerakan ini dapat dilihat dalam pengenalan, pertumbuhan, pemikiran, dan
kegiatan pembaruan Islam (BAB I dan BAB II). Secara umum, dalam dua bab
tersebut dapat dipetakan ke dalam dua bagian umum. Yakni gerakan pendidikan dan
gerakan sosial serta gerakan politik. Dalam pembagian pertama, dijelaskan bahwa
gerakan ini lahir dari gerakan-gerakan kecil yang muncul di daerah-daerah
seperti gerakan dari kalangan masyarakat Arab dan gerakan dari daerah
Minangkabau. Dimana dari gerakan-gerakan kecil itu kemudian melahirkan Syarikat
Islam, Perserikatan Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain.
Pada
perkembangannya, transformasi informasi mengenai gerakan-gerakan ini dihadapkan
pada istilah reformasi. Sehingga acapkali terdapat kerancuan dalam membedakan
antara gerakan modernis dan gerakan reformis. Padahal, tidak semua gerakan
modernis merupakan gerakan reformis. Selain berbasis organisasi, gerakan
reformis melakukan purifikasi dan membangun Islam dengan pikiran-pikiran baru.
Dari
organisasi-organisasi yang tersebut di atas, barangkali hanya dua saja yang
paling populer dan masih mendapatkan banyak simpati dari masyarakat Indonesia
hari ini. Yakni NU dan Muhammadiyah. Walaupun demikian, semangat dari
organisasi-organisasi pergerakan lain masih dapat kita rasakan dalam produk-produk
pemikiran ke-Islaman kita di Indonesia.
Yang
tidak boleh dilupakan juga, rupanya embrio gerakan-gerakan modern tersebut
bermula dari daerah-daerah. Belakangan diketahui karena memang peranan dari
daerah-daerah memang sangat penting. Terutama penyebaran semangat modernisasi
itu sendiri. Dengan atau tidak adanya persamaan latar belakang serta obyek
modernisasi dan perbedaan faham dari masing-masing gerakan.
Cita-cita
dan semangat modernisme ini bisa jadi berangkat dari latar belakang dan paham
yang berbeda. Dari satu daerah dengan daerah yang lain. Atau dari satu
organisasi dengan organisasi yang lain. Akan tetapi, secara umum
gerakan-gerakan tersebut mencakup aspek sosial dan pendidikan serta aspek
politik. Dalam kategori yang pertama, muncul kesadaran untuk membuat sebuah
institusi pendidikan sendiri di luar pendidikan yang dibuat oleh pemerintah
kolonial. Katakanlah ketika Muhammadiyah membuat sekolah-sekolah formal untuk
masyarakat yang bermula di Jogjakarta. Atau gerakan advokasi para pedagang batik
di Solo akibat dominasi para pedagang Cina oleh Serikat Islam. Kemudian pada
dekade berikutnya, muncul angin segar dari bagian timur Pulau Jawa, Nahdlatul
Ulama, yang menyuarakan hak-hak masyarakat baik dari aspek ekonomi, sosial,
hingga aspek spiritual. Adapun dalam hal pendidikan, NU sudah tidak perlu
dipertanyakan kembali.
Dalam
perkembangannya, dicatat pula bahwa terdapat pergesekan yang cukup keras antara
Muhammadiyah dan NU. Sampai pada 1935, lahir kesadaran bahwa sebenarnya
perbedaan antara keduanya hanya di persoalan furu’. Sementara rukun iman dan rukun Islam sama. Sejak saat itu
Muhammadiyah dan NU banyak melakukan konsolidasi bersama untuk kepentingan
ummat. Persatuan gerakan ini ditandai dengan lahirnya organisasi MIAI (Majelis
Islam A’laa Indonesia) pada tahun 1938. Organisasi inilah yang menjadi prasasti
modernisme Islam di Indonesia dalam hal politik. MIAI melakukan transformasi
pengetahuan Islam dari Fiqh dan Tasawwuf sampai pada masalah-masalah sosial
kemasyarakatan dan politik. Gerakan ini berjalan sampai dengan lahirnya
kedaulatan bangsa Indonesia.
Sebagai
penutup, kiranya tidak berlebihan jika penulis menyampaikan pendapat pribadi.
Dimana, penulis curiga bahwa peneliti melewatkan fakta sejarah bahwa NU, dengan
tradisinya atau kelompok tradisional—sebagaimana yang dilabelkan oleh
orientalis dan Indonesianis—adalah anak kandung dari tradisi Nusantara.
Pesantren yang sudah ada sejak abad ke-13 di Nusantara telah merekam seluruh
aspek yang baru digaungkan dengan istilah modernisme itu sendiri.
Dari
awal berdirinya, pesantren sudah mengajarkan berbagai macam teori Filsafat di
samping pengajaran fiqh dan tasawwuf. Apalagi pengetahuan tentang ilmu-ilmu
sosial, politik dan tata negara. Bagi penulis, jika kita menyetujui bahwa
gerakan modernisme Islam di Indonesia baru bermula dari awal abad ke-19, sama
artinya dengan kita mengubur jati diri bangsa kita. Di sisi yang lain memang
bisa dikatakan wajar karena memang generasi kita hari ini masih mewarisi
pendidikan kolonial.
Adanya
semangat pembaruan dalam Islam hingga melahirkan Indonesia memang sebuah
prestasi besar untuk para pelopornya. Akan tetapi, yang harus disadari adalah
bahwa kita masih telalu mengakui superioritas keilmuan warisan kolonial
daripada tradisi kita sendiri. Sementara, dinamika sejarah terus akan berjalan
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan pada saatnya,
tradisi akan menunjukkan ke mana muaranya.[]




0 komentar:
Posting Komentar
Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.