Oleh: Muhammad Mahrus
Abstraksi
Diskursus tentang Analisa Diri (Andir),
biasanya bermula dengan mempertanyakan identitas seseorang (manusia) kaitannya
dengan Alam, Tuhan, dan sesamanya di dunia. Kemudian, pada arah mana sekiranya
orientasi yang mesti dipilih dalam menjalani kehidupannya sebagai manifestasi
hidup yang sesungguhnya. Karenanya, pembahasan mengenai Andir ini setidaknya
akan dibatasi dalam dua kebutuhan dasar untuk mengenali dan menentukan arah
hidup dengan sebenar-banarnya hidup.
Adanya teori bahwa kebenaran itu
relative (Jurgen Habermas) barangkali akan sekilas saja akan mewarnai diskursus
ini. Atau bahkan dalam setiap dikursus. Tetapi, dalam tema ini sebisa mungkin
akan dipetakan secara intersubyektif dengan melihat pandangan para tokoh
mengenai konsep tata hidup manusia sebagai individu dan bagian dari masyarakat.
Mengingat, kebutuhan kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara
sekarang ini terlihat semakin rentan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.
Bahwa, secara epistemologis serta
historitas sejarah keberlangsungan hidup manusia telah banyak pendapat tetapi
yang tidak kalah penting dan selalu butuh penyikapan adalah bagaimana menjadi
manusia hari ini dalam rangka menyongsong masa yang akan datang.
Sekilas tentang
“Manusia”
Dalam posisinya sebagai bagian dari
alam (merujuk pada maqaalah: maa
siwaallah), manusia digolongkan dalam entitas tertentu yang menjadi kunci
atas segala perubahan alam itu sendiri. Dimana manusia yang mulanya hanya
terdiri atas individu-individu kemudian ada kebutuhan untuk hidup secara
berkelompok. Karenanya dari terminologi sederhana di atas, sekiranya dapat
dipahami bahwasanya kebutuhan (bersamaan dengan potensi yang dimilikinya),
manusia nantinya dapat mengemban amanahnya dalam mengaplikasikan
potensi-potensinya dalam hidup sebagai individu dan masyarakat.
Dalam hidup sebagai individu Sigmund
Freud membagi watak dan kesadaran manusia dalam tiga bentuk. ID, EGO, dan SUPEREGO. Freud
melihat adanya kebutuhan manusia pertama kali adalah adanya identitas; who am I? dari sini kita dapat terbantu
menjawab atau menunjukkan siapa kita sebagai manusia. Bahwa, sejak kelahirannya, manusia telah memiliki hasrat dan dorongan atas
keinginannya. Misalnya rasa lapar dan hasrat seksual. Dalam etika Spinoza, kita
dapat menyebutnya sebagai efek pasif (hasrat) dan efek aktif (aksi). Dimana
setiap manusia, menurut Hegel, memiliki potensi yang inhern terhadap seluruh
standar internalisasi atas potensinya.
Berikutnya,
manusia memiliki kecenderungan
untuk mendapatkan pengakuan atas keberadaan dirinya
di tengah komunitas-komunitas tertentu. Bila perlu, pun di tengah komunitas
manusia secara umum. Persoalan ego seseorang (manusia) ini biasanya dipicu
akibat persoalan identitas yang belum selesai. Justru sebenarnya ketika egoisme seseorang dituntut untuk
mengaktualisasikan kehendaknya, ia akan menakar secara rasional dan
proporsional terhadap kemampuannya dalam memnuhi kehendak tersebut. Di sinilah
kemudian peranan superego dalam diri manusia
menjadi penting. Superego akan menggolahnya sebagai internalisasi untuk
memberikan pilihan yang terbaik dalam menyelesaikan kehendak ID dan EGO. SUPEREGO
juga mengatasi persoalan-persoalan
individu dalam kebutuhan hidup secara berkelompok. Karenanya manusia yang ideal adalah
manusia yang mampu menyeimbangkan ketiga kesadaran tersebut.
Akan tetapi
perkembangan kepribadian individu seseorang dapat mengalami dua gangguan; regresi, yakni ketika proses
perkembangan mengalami gangguan sehingga membuat erilaku seseorang tetap
seperti perilaku sebelumnya. Kemudian jika dalam proses perkembangan kepribadiannya
terhambat sehingga menghentikan proses untuk beberapa waktu maka gangguan ini
disebut dengan fikasasi.
Terhadap
gangguan di atas, biasanya akibat beberapa faktor berikut:
1.
Nature (bawaan)
Secara teoritik,
faktor gangguan ini disebut dengan Nativisme
yang dipelopori oleh Plato, Scipenhauer, dan Descartes. Faktor nature atau bawaan lahir ini merupakan
faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Ketika seseorang memiliki faktor
ini maka faktor-faktor lain menjadi tidak penting. Nativisme menganggap bahwa
proses kepribadian seseorang seharusnya diserahkan sepenuhnya pada alamiah
sehingga alam sendirilah yang akan membentuk.
2.
Nurture (lingkungan)
Karakter dan
kepribadian seseorang ini dibentuk dari ligkungan di mana dia tumbuh dan
berkembang. Karena faktor ini menolak adanya pembentukan karakter secara
alamiah. Gagasan ini dipelopori John Locke dengan paham Empirisme.
3.
Konvergensi (gabungan
antara nature dan nurture)
Menurut William
Stren, perlu adanya penggabungan dari dua faktor sebelumnya. Karena bakat dan
lingkungan akan memberikan potensi yang kuat dalam mendorong proses kepribadian
seseorang. Sebuah bakat yang dimiliki sejak lahir akan menjadi sia-sia jika
tidak didukung lingkungan yang memadai, begitu juga sebaliknya lingkungan yang baik
tidak akan dengan sendirinya merubah kepribadian seseorang.
Pada kesempatan yang lain, Karl Marx
mendefinisikan manusia sebagai makhluk “Qua”. Yakni sebuah entitas yang dapat
dikenali dan diketahui. Sedikit banyak, pemikiran
Marx tentang konsep manusia memang dipengaruhi oleh Hegel. Mereka memulainya dengan ide bahwa
bentuk dan ide tidak akan pernah bertemu. Kemudian mereka membedakan antara
yang esensial dari realitas yang tampak dan menangkap hubungan antar keduanya. Tetapi dalam konsep manusia, Marx hanya ingin menawarkan pandangan
yang berbeda dengan yang lain dari sudut
pandang psikologis; bahwa, manusia tidak hanya bisa didefinisikan sebatas
keberadaannya secara biologis, anatomis, atau bentuk fisiknya semata.
Marx melihat ada dua faktor yang mampu
mendefinisikan manusia secara psikologis. Pertama,
adanya kepemilikan hasrat atau dorongan yang konstan (tetap). Sebenarnya juga
dapat ditambahkan unsur kontinuitas dalam kebutuhan yang konstan tersebut. Di awal, Freud menyebutnya dengan ID.
Yakni manusia memiliki hasrat atau kebutuhan sejak lahir seperti lapar dan
nafsu seksual. Kedua, kebutuhan
relatif. Menurut Marx, manusia juga memiliki kebutuhan untuk
bertahan hidup (survive) baik secara mandiri ataupun kelompok. Dorongan ini
dimaksudkan ketika manusia berada dalam sebuah komunitas tertentu dan
menyangkut kepentingan orang banyak (masyarakat). Kebutuhan relatif ini akan selalu terkait dengan interaksi dengan
manusia-manusia lain. Misalnya kehendak untuk berkuasa dan kebutuhan terhadap
uang.
Dalam bahasa agama, manusia sudah
diterangkan panjang lebar melalui Al-Qur’an. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Dan segala bentuk
rujukan dan argumentasinya. Semisal, sebagai pribadi manusia adalah makhluk
yang diciptakan Tuhan sebagai wakil-Nya di bumi. Kemudian kaitannya dengan
kebutuhan hidup secara berkolompok, gambaran secara riil adalah adanya
kelompok-kelompok besar yang belakangan kita sebut dengan agama, suku, etnis,
atau bangsa tertentu dalam jumlahnya yang besar. Atau dalam bentuk yang paling
sederhana, yakni laki-laki dan perempuan.
Pembahasan
konsep manusia dalam Al-Qur’an, para pakar sependapat bahwa manusia disebut
dengan beberapa istilah. Antara lain al-Basyar,
an-Naas, al-Ins, al-Insaan, Banu Adam, dan Dzurriyat Adam. Masing-masing kemudian diurai sebagaimana berikut:
1.
Al-Basyar
Al-Basyar berasal
dari akar kata “ba’”, “syin”, dan “ra’”. Kata ini bermakna “sesuatu yang tampak baik dan indah”,
“bergembira, menggembirakan atas mengupas/menguliti (buah)”, atau “memperhatikan
dan mengurus sesuatu”. Dalam penafsiran lain, Ar-Raghib memahaminya sebagai
bentuk jamak dari kata basyiirah yang
berarti kulit. Manusia disebut sebagai al-Basyar
di dalam Al-Qur’an karena untuk menggambarkan aspek lahiriyyahnya dengan
kuli yang dapat ditumbuhi rambut dipermukaannya. Akan tetapi berbeda dengan
kulit hewan yang umumnya ditumbuhi bulu.
Dari akar kata basyar kosa kata ini disebut sebanyak 37
kali dalam Al-Qur’an. 25 di antaranya mengacu pada arti yang menunjukkan
kebutuhan primer jasmani berupa rasa lapar dan nafsu seksual. Sisanya disebut
daam interaksi antara orang muslim dan non muslim.
2.
An-Naas, Al-Ins, dan Al-Insaan
Kata an-Naas dipahami dalam konteks
kebutuhannya secara sosial. Kata ini disebut sebanyak 240 kali dalam pengertian
manusia sebagai keturunan Adam. Struktur sejarah kemanusiaan seperti ini
menegaskan pada pengertian manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan
serta keberagamannya secara kelompok seperti dalam Q.S. al-Hujuraat:13.
Sementara terdapat
18 kali penyebutan kata al-Ins dalam
Al-Qur’an pada 9 surat yang berbeda. Kesemuanya selalu berhadapan (muqaabalah) dengan
kata jinn. Ini dimaksudkan sebagai
pembeda antara abstraksi manusia dengan jin. Selanjutnya terdapat 65 kali
penyebutan kata al-Insaan yang
mengacu pada potensi manusia dalam memperoleh derajat kemanusiaan. Dari kata
ini manusia ditunjuk sebagai khalifah Allah
di muka bumi. Dapat diartikan bahwa manusia diberi kekuatan daya aktualisasi
dalam menjalankan tugas kemanusiaannya di muka bumi.
3.
Banu Adam dan Dzurriyat Adam
Rupanya dua kosa
kata tersebut ingin menegaskan bahwa manusia, dengan segenap potensi dan
fungsinya sebagai makhluk Allah, jelas sebagai makhluk yang berkesejarahan. Banu Adam disebut sebanyak 8 kali. Satu
di antaranya terdapat dalam surat Madaniyyah
dengan penyebutan ibnay Adam. Selebihnya
diturunkan dalam surat Makkiyah.
Sedangkan istilah Dzurriyat Adam hanya
disebut satu kali yang menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dalam berbagai
jenis, suku, dan bangsa dengan tujuan untuk saling berinteraksi dan menjalin
kehidupan secara baik.
Merujuk
pada semua konsep manusia di atas, terdapat satu prinsip yang harus
diperhatikan. Yakni, bagaimana memanifestasikan definisi-definisi atas (ke)-manusia-(an) seseorang atas
hidupnya sebagai khalifah.
Manusia; Sang
Pembebas
“Mari kita
mengasumsikan manusia sebagai manusia,” kata Marx. “dan hubungannya
dengan dunia menjadi manusiawi. Kemudian cinta hanya dapat ditukar dengan
cinta, kepercayaan dengan kepercayaan, dan sebagainya. Jika Anda ingin
mempengaruhi orang lain, Anda harus benar-banar memiliki pengaruh yang
menstiulur dan bersemangat pada orang lain. Setiap hubungan yang Anda miliki dengan
orang lain dan dengan alam pasti merupakan ungkapan
khusus yang berkaitan dengan tujuan keinginan Anda, tujuan hidup pribadi Anda yang nyata. Jika Anda
mencintai tanpa membangkitkan cinta, yakni jika Anda tidak dapat, dengan
memanifestasikan diri Anda sebagai orang yang mencintai, membuat diri Anda
sebagai orang yang dicintai, maka
cinta Anda tumpul dan mengenaskan.”
Dalam
ungkapan tersebut, Marx ingin menggambarkan sebuah bentuk kebebasan seseorang.
Sebagai manusia dan secara sangat manusiawi. Dengan cinta, seseorang dapat
mengukur sejauh mana dirinya sebagai manusia, bahkan untuk dirinya sendiri.
Kemudian mengukur kemanusiannya sebagai diri terhadap kebutuhannya pada orang
lain sebagai kebutuhan yang manusiawi. Serta seberapa besar esensinya sebagai manusia
yang telah menjadi esensi alamiah bagi dirinya sendiri dengan konsekuensi
seberapa besar dirinya sebagai kebutuhan orang lain.
Sebagai masyarakat beragama, kaprahnya
kita mesti menyelesaikan urusan kita dengan Tuhan dalam masalah
(ke)-manusia-(an), sebelum kita terlanjur mencampuri urusan Tuhan atas
kebodohan dan kecerobohan kita sendiri. Dalam pengertian, meskipun manusia
adalah makhluk Tuhan yang diistimewakan-Nya untuk mengemban tugas-tugas
tertentu, sebenarnya tidak lebih terhadap hubungan kita dengan manusia dan
jagad semesta raya. Karena Tuhan sudah memberikan batasan-batasan tertentu atas
tugas dan amanah kita di muka bumi.
Karenanya, bahasa agama memberikan
metode dalam mengantarkan kita untuk menyelesaikan urusan dasar ini.
Sebenarnya, pembahasan mengenai pokok bahasan ini akan dijelaskan lebih detil
pada beberapa materi yang lain. Tetapi sebagai
pengantar, melalui konsep ke-Tuhanan, kita dibiasakan untuk memahami posisi dan
peranan (ke)-manusia-(an) kita dengan kalimat tauhid; laa ilaaha illallah, dan atau dengan syahadat; asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu
anna Muhammadan rasuulullah.
Dari kalimat tauhid, dalam kerangka semantik,
kita akan mendapati sebuah proses negasi yang total terhadap kedirian kita.
Kita diminta untuk melepaskan seluruh identitas kemanusiaan dan pengakuan
terhadap tuhan-tuhan (dengan “t” kecil) lain, baik yang menuhankan diri atau
dipertuhankan. Baru kemudian dihadirkan afirmasi atas ketiadaan tuhan-tuhan itu
dengan adanya Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Atau dalam konsepsi yang lebih
parsial dalam kalimat syahadat tersebut yang keduanya sama-sama memiliki
prinsip “pembebasan”.
Proses Pembebasan inilah yang
sebenarnya dimaksudkan sebagai manifestasi kita dalam menjalani hidup di dunia
sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Sebagaimana diuraikan sedikit di atas akan adanya batasan-batasan tertentu yang
sangat fundamental dalam hidup sebagai manusia individu dan masyarakat. Bagaimanapun,
persoalan pertama ini harus diselesaikan meskipun pada saatnya kita juga masih
harus menyelesaikan persoalan-persoalan dalam bentuk yang palin parsial dalam
menjalakan amanah ini. Bahwa, dengan adanya banyak teori tentang kemanusiaan
kita, setidaknya itulah yang akan membantu kita dalam mendefinisikan (atau
bahkan juga meredefinisi) eksistensi kita sebagai
“Sang Pembebas”. []
“laa insaana illa bil jamaa’ah,
wa
laa jamaa’ata illa bil harakah…
PMII, aiy haraakatii…”




1 komentar:
mantap senior...
Posting Komentar
Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.