20.12.12

ANALISA DIRI

Oleh: Muhammad Mahrus

Abstraksi
Diskursus tentang Analisa Diri (Andir), biasanya bermula dengan mempertanyakan identitas seseorang (manusia) kaitannya dengan Alam, Tuhan, dan sesamanya di dunia. Kemudian, pada arah mana sekiranya orientasi yang mesti dipilih dalam menjalani kehidupannya sebagai manifestasi hidup yang sesungguhnya. Karenanya, pembahasan mengenai Andir ini setidaknya akan dibatasi dalam dua kebutuhan dasar untuk mengenali dan menentukan arah hidup dengan sebenar-banarnya hidup.
Adanya teori bahwa kebenaran itu relative (Jurgen Habermas) barangkali akan sekilas saja akan mewarnai diskursus ini. Atau bahkan dalam setiap dikursus. Tetapi, dalam tema ini sebisa mungkin akan dipetakan secara intersubyektif dengan melihat pandangan para tokoh mengenai konsep tata hidup manusia sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Mengingat, kebutuhan kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara sekarang ini terlihat semakin rentan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.
Bahwa, secara epistemologis serta historitas sejarah keberlangsungan hidup manusia telah banyak pendapat tetapi yang tidak kalah penting dan selalu butuh penyikapan adalah bagaimana menjadi manusia hari ini dalam rangka menyongsong masa yang akan datang.

Sekilas tentang “Manusia”
Dalam posisinya sebagai bagian dari alam (merujuk pada maqaalah: maa siwaallah), manusia digolongkan dalam entitas tertentu yang menjadi kunci atas segala perubahan alam itu sendiri. Dimana manusia yang mulanya hanya terdiri atas individu-individu kemudian ada kebutuhan untuk hidup secara berkelompok. Karenanya dari terminologi sederhana di atas, sekiranya dapat dipahami bahwasanya kebutuhan (bersamaan dengan potensi yang dimilikinya), manusia nantinya dapat mengemban amanahnya dalam mengaplikasikan potensi-potensinya dalam hidup sebagai individu dan masyarakat.
Dalam hidup sebagai individu Sigmund Freud membagi watak dan kesadaran manusia dalam tiga bentuk. ID, EGO, dan SUPEREGO. Freud melihat adanya kebutuhan manusia pertama kali adalah adanya identitas; who am I? dari sini kita dapat terbantu menjawab atau menunjukkan siapa kita sebagai manusia. Bahwa, sejak kelahirannya, manusia telah memiliki hasrat dan dorongan atas keinginannya. Misalnya rasa lapar dan hasrat seksual. Dalam etika Spinoza, kita dapat menyebutnya sebagai efek pasif (hasrat) dan efek aktif (aksi). Dimana setiap manusia, menurut Hegel, memiliki potensi yang inhern terhadap seluruh standar internalisasi atas potensinya.
Berikutnya, manusia memiliki kecenderungan untuk mendapatkan pengakuan atas keberadaan dirinya di tengah komunitas-komunitas tertentu. Bila perlu, pun di tengah komunitas manusia secara umum. Persoalan ego seseorang (manusia) ini biasanya dipicu akibat persoalan identitas yang belum selesai. Justru sebenarnya ketika egoisme seseorang dituntut untuk mengaktualisasikan kehendaknya, ia akan menakar secara rasional dan proporsional terhadap kemampuannya dalam memnuhi kehendak tersebut. Di sinilah kemudian peranan superego dalam diri manusia menjadi penting. Superego akan menggolahnya sebagai internalisasi untuk memberikan pilihan yang terbaik dalam menyelesaikan kehendak ID dan EGO. SUPEREGO juga mengatasi persoalan-persoalan individu dalam kebutuhan hidup secara berkelompok. Karenanya  manusia yang ideal adalah manusia yang mampu menyeimbangkan ketiga kesadaran tersebut.
Akan tetapi perkembangan kepribadian individu seseorang dapat mengalami dua gangguan; regresi, yakni ketika proses perkembangan mengalami gangguan sehingga membuat erilaku seseorang tetap seperti perilaku sebelumnya. Kemudian jika dalam proses perkembangan kepribadiannya terhambat sehingga menghentikan proses untuk beberapa waktu maka gangguan ini disebut dengan fikasasi.
Terhadap gangguan di atas, biasanya akibat beberapa faktor berikut:
1.       Nature (bawaan)
Secara teoritik, faktor gangguan ini disebut dengan Nativisme yang dipelopori oleh Plato, Scipenhauer, dan Descartes. Faktor nature atau bawaan lahir ini merupakan faktor genetik yang diturunkan dari orang tua. Ketika seseorang memiliki faktor ini maka faktor-faktor lain menjadi tidak penting. Nativisme menganggap bahwa proses kepribadian seseorang seharusnya diserahkan sepenuhnya pada alamiah sehingga alam sendirilah yang akan membentuk.
2.       Nurture (lingkungan)
Karakter dan kepribadian seseorang ini dibentuk dari ligkungan di mana dia tumbuh dan berkembang. Karena faktor ini menolak adanya pembentukan karakter secara alamiah. Gagasan ini dipelopori John Locke dengan paham Empirisme.
3.       Konvergensi (gabungan antara nature dan nurture)
Menurut William Stren, perlu adanya penggabungan dari dua faktor sebelumnya. Karena bakat dan lingkungan akan memberikan potensi yang kuat dalam mendorong proses kepribadian seseorang. Sebuah bakat yang dimiliki sejak lahir akan menjadi sia-sia jika tidak didukung lingkungan yang memadai, begitu juga sebaliknya lingkungan yang baik tidak akan dengan sendirinya merubah kepribadian seseorang.
Pada kesempatan yang lain, Karl Marx mendefinisikan manusia sebagai makhluk “Qua”. Yakni sebuah entitas yang dapat dikenali dan diketahui. Sedikit banyak, pemikiran Marx tentang konsep manusia memang dipengaruhi oleh Hegel. Mereka memulainya dengan ide bahwa bentuk dan ide tidak akan pernah bertemu. Kemudian mereka membedakan antara yang esensial dari realitas yang tampak dan menangkap hubungan antar keduanya. Tetapi dalam konsep manusia, Marx hanya ingin menawarkan pandangan yang berbeda dengan yang lain dari sudut pandang psikologis; bahwa, manusia tidak hanya bisa didefinisikan sebatas keberadaannya secara biologis, anatomis, atau bentuk fisiknya semata.
Marx melihat ada dua faktor yang mampu mendefinisikan manusia secara psikologis. Pertama, adanya kepemilikan hasrat atau dorongan yang konstan (tetap). Sebenarnya juga dapat ditambahkan unsur kontinuitas dalam kebutuhan yang konstan tersebut. Di awal, Freud menyebutnya dengan ID. Yakni manusia memiliki hasrat atau kebutuhan sejak lahir seperti lapar dan nafsu seksual. Kedua, kebutuhan relatif. Menurut Marx, manusia juga memiliki kebutuhan untuk bertahan hidup (survive) baik secara mandiri ataupun kelompok. Dorongan ini dimaksudkan ketika manusia berada dalam sebuah komunitas tertentu dan menyangkut kepentingan orang banyak (masyarakat). Kebutuhan relatif ini akan selalu terkait dengan interaksi dengan manusia-manusia lain. Misalnya kehendak untuk berkuasa dan kebutuhan terhadap uang.
Dalam bahasa agama, manusia sudah diterangkan panjang lebar melalui Al-Qur’an. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi. Dan segala bentuk rujukan dan argumentasinya. Semisal, sebagai pribadi manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sebagai wakil-Nya di bumi. Kemudian kaitannya dengan kebutuhan hidup secara berkolompok, gambaran secara riil adalah adanya kelompok-kelompok besar yang belakangan kita sebut dengan agama, suku, etnis, atau bangsa tertentu dalam jumlahnya yang besar. Atau dalam bentuk yang paling sederhana, yakni laki-laki dan perempuan.
Pembahasan konsep manusia dalam Al-Qur’an, para pakar sependapat bahwa manusia disebut dengan beberapa istilah. Antara lain al-Basyar, an-Naas, al-Ins, al-Insaan, Banu Adam, dan Dzurriyat Adam. Masing-masing kemudian diurai sebagaimana berikut:
1.       Al-Basyar
Al-Basyar berasal dari akar kata “ba’”, “syin”, dan “ra’”. Kata ini bermakna “sesuatu yang tampak baik dan indah”, “bergembira, menggembirakan atas mengupas/menguliti (buah)”, atau “memperhatikan dan mengurus sesuatu”. Dalam penafsiran lain, Ar-Raghib memahaminya sebagai bentuk jamak dari kata basyiirah yang berarti kulit. Manusia disebut sebagai al-Basyar di dalam Al-Qur’an karena untuk menggambarkan aspek lahiriyyahnya dengan kuli yang dapat ditumbuhi rambut dipermukaannya. Akan tetapi berbeda dengan kulit hewan yang umumnya ditumbuhi bulu.
Dari akar kata basyar kosa kata ini disebut sebanyak 37 kali dalam Al-Qur’an. 25 di antaranya mengacu pada arti yang menunjukkan kebutuhan primer jasmani berupa rasa lapar dan nafsu seksual. Sisanya disebut daam interaksi antara orang muslim dan non muslim.
2.       An-Naas, Al-Ins, dan Al-Insaan
Kata an-Naas dipahami dalam konteks kebutuhannya secara sosial. Kata ini disebut sebanyak 240 kali dalam pengertian manusia sebagai keturunan Adam. Struktur sejarah kemanusiaan seperti ini menegaskan pada pengertian manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan serta keberagamannya secara kelompok seperti dalam Q.S. al-Hujuraat:13.
Sementara terdapat 18 kali penyebutan kata al-Ins dalam Al-Qur’an pada 9 surat yang berbeda. Kesemuanya selalu berhadapan (muqaabalah) dengan kata jinn. Ini dimaksudkan sebagai pembeda antara abstraksi manusia dengan jin. Selanjutnya terdapat 65 kali penyebutan kata al-Insaan yang mengacu pada potensi manusia dalam memperoleh derajat kemanusiaan. Dari kata ini manusia ditunjuk sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dapat diartikan bahwa manusia diberi kekuatan daya aktualisasi dalam menjalankan tugas kemanusiaannya di muka bumi.
3.       Banu Adam dan Dzurriyat Adam
Rupanya dua kosa kata tersebut ingin menegaskan bahwa manusia, dengan segenap potensi dan fungsinya sebagai makhluk Allah, jelas sebagai makhluk yang berkesejarahan. Banu Adam disebut sebanyak 8 kali. Satu di antaranya terdapat dalam surat Madaniyyah dengan penyebutan ibnay Adam. Selebihnya diturunkan dalam surat Makkiyah. Sedangkan istilah Dzurriyat Adam hanya disebut satu kali yang menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dalam berbagai jenis, suku, dan bangsa dengan tujuan untuk saling berinteraksi dan menjalin kehidupan secara baik.
Merujuk pada semua konsep manusia di atas, terdapat satu prinsip yang harus diperhatikan. Yakni, bagaimana memanifestasikan definisi-definisi atas (ke)-manusia-(an) seseorang atas hidupnya sebagai khalifah.

Manusia; Sang Pembebas
“Mari kita mengasumsikan manusia sebagai manusia,” kata Marx. “dan hubungannya dengan dunia menjadi manusiawi. Kemudian cinta hanya dapat ditukar dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan, dan sebagainya. Jika Anda ingin mempengaruhi orang lain, Anda harus benar-banar memiliki pengaruh yang menstiulur dan bersemangat pada orang lain. Setiap hubungan yang Anda miliki dengan orang lain dan dengan alam pasti merupakan ungkapan khusus yang berkaitan dengan tujuan keinginan Anda, tujuan hidup pribadi Anda yang nyata. Jika Anda mencintai tanpa membangkitkan cinta, yakni jika Anda tidak dapat, dengan memanifestasikan diri Anda sebagai orang yang mencintai, membuat diri Anda sebagai orang yang dicintai, maka cinta Anda tumpul dan mengenaskan.”
Dalam ungkapan tersebut, Marx ingin menggambarkan sebuah bentuk kebebasan seseorang. Sebagai manusia dan secara sangat manusiawi. Dengan cinta, seseorang dapat mengukur sejauh mana dirinya sebagai manusia, bahkan untuk dirinya sendiri. Kemudian mengukur kemanusiannya sebagai diri terhadap kebutuhannya pada orang lain sebagai kebutuhan yang manusiawi. Serta seberapa besar esensinya sebagai manusia yang telah menjadi esensi alamiah bagi dirinya sendiri dengan konsekuensi seberapa besar dirinya sebagai kebutuhan orang lain.
Sebagai masyarakat beragama, kaprahnya kita mesti menyelesaikan urusan kita dengan Tuhan dalam masalah (ke)-manusia-(an), sebelum kita terlanjur mencampuri urusan Tuhan atas kebodohan dan kecerobohan kita sendiri. Dalam pengertian, meskipun manusia adalah makhluk Tuhan yang diistimewakan-Nya untuk mengemban tugas-tugas tertentu, sebenarnya tidak lebih terhadap hubungan kita dengan manusia dan jagad semesta raya. Karena Tuhan sudah memberikan batasan-batasan tertentu atas tugas dan amanah kita di muka bumi.
Karenanya, bahasa agama memberikan metode dalam mengantarkan kita untuk menyelesaikan urusan dasar ini. Sebenarnya, pembahasan mengenai pokok bahasan ini akan dijelaskan lebih detil pada beberapa materi yang lain. Tetapi sebagai pengantar, melalui konsep ke-Tuhanan, kita dibiasakan untuk memahami posisi dan peranan (ke)-manusia-(an) kita dengan kalimat tauhid; laa ilaaha illallah, dan atau dengan syahadat; asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.
Dari kalimat tauhid, dalam kerangka semantik, kita akan mendapati sebuah proses negasi yang total terhadap kedirian kita. Kita diminta untuk melepaskan seluruh identitas kemanusiaan dan pengakuan terhadap tuhan-tuhan (dengan “t” kecil) lain, baik yang menuhankan diri atau dipertuhankan. Baru kemudian dihadirkan afirmasi atas ketiadaan tuhan-tuhan itu dengan adanya Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Atau dalam konsepsi yang lebih parsial dalam kalimat syahadat tersebut yang keduanya sama-sama memiliki prinsip “pembebasan”.
Proses Pembebasan inilah yang sebenarnya dimaksudkan sebagai manifestasi kita dalam menjalani hidup di dunia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sebagaimana diuraikan sedikit di atas akan adanya batasan-batasan tertentu yang sangat fundamental dalam hidup sebagai manusia individu dan masyarakat. Bagaimanapun, persoalan pertama ini harus diselesaikan meskipun pada saatnya kita juga masih harus menyelesaikan persoalan-persoalan dalam bentuk yang palin parsial dalam menjalakan amanah ini. Bahwa, dengan adanya banyak teori tentang kemanusiaan kita, setidaknya itulah yang akan membantu kita dalam mendefinisikan (atau bahkan juga meredefinisi) eksistensi kita sebagai “Sang Pembebas”. []
laa insaana illa bil jamaa’ah,
wa laa jamaa’ata illa bil harakah…

PMII, aiy haraakatii…”

1 komentar:

Unknown mengatakan...

mantap senior...

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.