5.7.13

MEMBACA TOKOH DAN METODE METAFISIKA

Oleh: Muhammad Mahrus

Abstraksi
Sebagaimana lazimnya sebuah pengantar, penting kiranya disebutkan terlebih dahulu arti penting dari metafisika. Bahwa metafisika adalah dasar dalam berfilsafat. Karenanya, setiap pemikiran filosofis sudah tentu berangkat dari bangunan metafika yang kuat. Tanpa metafisika, bahkan tidak layak sebuah pemikiran dikatakan sebagai filsafat. Pun begitu, dalam paper ini tidak akan membicarakan kembali apa itu filsafat? Apa saja cabang-cabangnya, dan siapa saja para pemikir filsafat? Akan tetapi, kajian ini akan fokus pada sistem-sistem yang berkembang di dalamnya (baca: Metafisika).
Demikian, untuk mengawali diskursus metafisika ini, terdapat tiga hal utama yang akan didedahkan. Pertama, sekaligus sebagai pintu masuk, pembahasan dimulai dengan pengertian dan cara mengidentifikasi dasar metafisika dari setiap pemikiran. Kedua, kajian mengenai dasar metafisika dari dan oleh para pemikir metafisika Barat. Ketiga, bagaimana sistem-sistem metafisika Barat tersebut.
Bahwa di dalam mengupas kajian-kajian metafisika ini akan melompat-lompat antas satu cabang filsafat pada cabang yang lain, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan paper sehingga dapat lebih sistematis dan mudah dimengerti. Terlepas dari segenap kekurangan di dalam uraiannya, karenanya ini juga disampaikan terlebih dahulu. Baik dari aspek kepenulisan dan penyusunan atau kedalaman dan analisis yang bisa dikatakan masih dangkal.

Pembahasan
1. Pengertian
Metafisika adalah study of Being as Being and not “being”. Dalam pengertian studi tentang “Ada” sebagai “Ada” (dengan huruf “A” kapital) dan bukan “ada” sebagai “ada” (dengan huruf “a” kecil). Dalam struktur kalimat sedemikian itu, terutama untuk mendefinisikan metafisika, sudah dapat dipahami bahwa “Ada” yang dimaksud bukanlah sekedar “ada” yang  hanya karena dapat dilihat dam dirasakan oleh panca indera. Akan tetapi “Ada” yang menjadikan “ada-ada” yang ada.
Secara etimologi, metafisika berasal dari bahasa Yunani; ta meta ta physica yang berarti di balik yang ada/nyata. Meminjam istilah Immanuel Kant dalam definisi tradisionalnya, metafisika adalah ilmu yang menyelidiki tentang “yang-ada sebagai yang-ada”. Definisi tersebut sudah lebih dari dua abad yang lampau disampaikan Kant sebagai jawaban apakan metafisika masih mungkin? Jika diselidiki lebih lanjut, rupanya pertanyaan Kant tersebut masih membuat orang menjadi gelisah. Dan akhirnnya yang muncul justru sikap-sikap metafisis dalam dua bentuk umum; pro dan kontra terhadap metafisika. 
Menurut Drs. Djoko Siswanto, M. Hum, sikap metafisis demikian itu ada tiga macam tolak ukur pembeda. Pertama, sikap yang merasa tidak berwenang atau memberi jawaban atau pemecahan atas masalah metafisika. Kedua, sikap medium (tengah-tengah). Ketiga, sikap yang memberikan jawaban yang menetukan, baik positif maupun negatif. 
Di dalam diskursus metafisika, ada baiknya juga mengawalinya dari epistemologi. Yakni pengetahuan rasional. Sementara, rasional yang dimaksud dalam pengertian pengetahuan yang sistematis. Adapun pengertian etimologinya, epistemologi merupakan gabungan dari dua kata dari bahasa Yunani. Episteme dan logos. Sekiranya dapat ditarik pengertian dari epistemologi sebagai pengetahuan rasional. 
Dalam Webster Thrid New International Dictionary, epistemologi diartikan the study of methodand graound of knowledge, especially with reference to its limits and validitiy. Sedangkan dalam Ensiklopedi Filsafat yang disusun Paul Edwards, epistemologi dimaknai sebagai teori pengetahuan, the theory of knowledge
Menurut Aristoteles, epistemologi dibagai menjadi tiga. Praktis, produktif, dan teoritis. Epistemologi praktis, belakang banyak kita jumpai pada aspek-aspek teori politik, ekonomi, dan etika. Sementara epistemologi produktif, ini menyangkut aspek teori estetika/seni. Sedangkan pada epistemologi teoritis inilah yang kemudian melahirkan teori matematis, fisika, dan terutama protephilosophia (filsafat pertama). 
Protephilosophia (filsafat pertama), merupakan konsep-konsep dasar metafisika yang digunakan Aristoteles. Jadi pada mulanya, Aristoteles sendiri belum menyebutnya dengan metafisika. Istilah metafisika sendiri baru dimunculkan oleh para murid-murid Aristoteles. Dimana mereka menerjemahkan protephilosophia (filsafat pertama) Aristoteles dengan Ontologi atau Metafisika.
Dalam dinamikanya, metafisika mengalami berbagai macam bentuk perkembangan. Antara lain, menurut sebuah pandangan, metafisika dibagi menjadi tiga fokus kajian; Etika Bibliografis (sistematis), Pendidikan, dan Protephilosophia. Menurut Christian Wollf, metafisika ada dua macam saja; metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika khusus ini meliputi bidang kajian kosmologi, psikologi, dan teologi. Sedangkan menurut Hasbullah Bahm, metafisika juga ada dua jenis; ontologi dan teologi.
Metafisika ontologis meliputi konsep monisme, dualisme, dan pluralisme. Sementara metafisika teologi meliputi theisme, pantheisme, panantheisme, dan agnotisme.  Keseluruhan sistematika inilah rupanya yang memberikan legitimasi bahwa Aristoteleslah yang membidani kelahiran metafisika. Baik secara langsung atau pun tidak langsung.
Pada saat yang sama, wacana yang dibangun dalam menyelidiki konsep-konsep metafisi ini adalah untuk tiga hal penting. Pertama, metafisika dibutuhkan sebagai kerangka berfikir dalam rangka membangun sistem. Kedua, metafisika dipakai sebagai sarana untuk menolak sistem. Ketiga, sebagai wacana metafisika yang terakhir, adalah untuk upaya sintesis. Dalam pengertian, mencari titik temu antara wacana membangun sistem dan menolak sistem tersebut.

2. Para Filsuf Metafisika (Barat)
Meskipun Aristoteles sendiri masih menyebutnya degan protephilosophia atas metafisika, patutlah kiranya mengawali penyebutan para filsuf metafisika (Barat) abad klasik dari dirinya. Adapun sekilas tentang pemikiran metafisika para filsuf tersebut adalah sebagai berikut:

Aristoteles (384-322 SM)
Sebagaimana diketahui bahwa Aristoteles merupakan murid kesayangan Plato. Dan memang pikiran-pikiran Aristoteles banyak dipengaruhi Plato. Terutama tentang teori ”wujud” (The Forms) dan ”materi” dalam Phaedo dan Republik. Setelah itu, Aristoteles melancarkan kritikan pada teori ”wujud” Plato ketika Aristoteles mulai bergiat pada filsafat spekulatif sampai kemudian menjadi buku yang berjudul Metafisika. Dalam periode sebelumnya, Aristoteles melahirkan karya-karyanya yang berjudul Physica I, II, dan VII, De Caelo I, Politica II, dan De Anima III

Rene Descartes (1596-1650)
Setidaknya ada tiga hal yang dapat dilihat sebagai banguana filsafat Descartes, Pertama, Descartes memutuskan untuk mendasarkan pikiran-oikirannya pada rasio, tidak pada otoritas. Karenanya ia dikenal sebagai pemikir rasionalisme sekaligus sebagai bapak filsafat modern. Ia menuduh para pemikir abad klasik setelah Aristoteles dan abad pertengahan telah gagal memahami otoritas kebenaran yang telah dibangun oleh para pendahulunya. 
Kedua, Descartes memutuskan untuk menghindari pengacauan terhadap otoritas-otoritas yang sudah jelas dan tegas. Dalam hal ini, dimaksudkan bahwa hasil otoritas kebenaran yang telah dihasilkan para pemikir klasik seperti Plato dan Aristoteles merupakan pernyataan yang sudah sangat tegas dan jelas. Akan tetapi, otoritas-otoritas tersebut telah mengalami kesalahan pemahaman yang dilakukan oleh para pengikut Aristoteles, semisal. Dan dengan tegas, mereka dikatakan telah berpura-pura telah menemukan penyelesaian atas karya-karya Aristoteles. Padahal mereka tidak melakukan apapun bahkan tidak pernah berfikir apa-apa.
Ketiga, Descartes memutuskan untuk bekerja ulang dengan ide-ide yang jelas dan tegas. Tidak sebagaimana cara bekerja kaum Skolastik yang dianggapnya justru telah melakukan pengacauan.

Benedict Spinoza (1632-1677)
Barangkali memang tidak begitu banyak yang tertarik pada filsuf Spinoza. Tetapi tak dapat disangkal bahwa ia adalah salah satu filsuf yang abad modern yang mencoba mengoreksi kesalahan dan kekurangan Descartes. Dapat dipahami bahwa betapa pengaruh Descartes tentu sangat besar dalam membentuk pengetahuan Spinoza. Keterpengaruhan ini dapat dilihat setidaknya dari metode yang digunakan Spinoza dalan berfilsafat, kemudian kaitannya dalam penggunaan istilah-istilah, kemudian mengenai argumentasi ontologis tentang Tuhan, dan mengenai jiwa dan badan.
Ketika Descartes mengatakan Co gito ergo sum, Spinoza menjawab jiwa dan badan adalah atribut substansi yang tunggal. Dengan tegas Spinoza menolak dualisme Descartes dan ia berkeinginan untuk meluruskan pernyaataan tegas dari Descartes yang dirasanya kurang memuaskan. Menurut Spinoza, pernyataan ”aku berfikir maka aku ada” memiliki dua segi yang membuatnya tidak berarti. Yakni sebagai suatu kebenaran yang kontingen dan mencakup suatu referensi yang tidak dapat dihilangkan bagi ”orang pertama”. Sedangkan bagi Spinoza setiap kebenaran harus didasarkan pada kemutlakan dan kesibukan pribadi serta mentalitas perspnal adalah terbatas. Jadi, secara umum koreksi Spinoza terhadap Descartes mengenai keterpisahan jiwa dengan badan dan dualisme antara Tuhan dan penciptaan dunia.

Gottfried Wilhem Leibniz (1646-1716)
Terhadap Leibniz kita akan mengingat konsep sinkretisme bermula. Berangkat dari teori kebenaran Leibniz yang meliputi dua bentuk prinsip. Pertama, pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran eternal atau kebenaran logis. Pengetahuan in berdasarkan pada prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Menurut Mayer (1951) prinsip yang demikian itu adalah sesuatu yang bersifat aksiomatik, tidak berdasarkan penemuan ilmiah. Dimana A adalah A yang selamanya tidak mungkin menjadi non-A.
Kedua, kebenaran kontingen atau kebenaran fakta. Yakni pengetahuan yang didasarkan pada observasi atau pengamatan. Kebenaran fakta, menurut Leibniz, ditentukan oleh hubungan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain. Tidak dengan proposisi yang self-evident. Sebagaimana pandangan Edwards (1967), Leibniz meyakini bahwa kebenaran fakta merupakan prinsip yang terbaik yang muncul dari pilihan bebas Tuhan dalam menciptakan dunia.

David Hume (1711-1776)
Seluruh ilmu pengetahuan berkaitan dengan hakikat hidup manusia (David Hume, Treatise of Human Nature, 1961).  
Setidaknya filsafat Hume dapat dikatakan sebagai reaksi kontra atas tiga prinsip dasar. Pertama, filsafat Hume melawan rasionalisme terutama berkaitan dengan ajaran tentang ide-ide bawaan yang dipakai sebagai landasan teologi kaum-kaum rasionalis dalam memahami dunia sebagai suatu kesatuan interrelasi. Kedua, reaksi Hume terhadap masalah religi terutama kaitannya dengan ajaran Deis, Katolik, dan Anglikan. Dimana teologi sebelumnya didasarkan pada aksioma-aksioma yang universal seperti hukum kausalitas. Ketiga, Hume melawan empirisme, terutama empirisme Locke dan Berkeley. Buah kerja kerasnya tersebut Hume mempu melahirkan empirisme yang konsisten.

Immanuel Kant (1724-1804)
Rupanya Kant berhasil merebut puncak kejayaan filsafat modern dari para pendahulunya dengan filsafat kritis atau filsafat transendennya. Sebagaimana telah disinggung sekilas di bagian awal paper ini, menurut Kant, semua filsafat harus dimulai dengan pertanyaan apakah metafisika mungkin? Menurut hemat penulis, filsafat kritis Kant dibangun dalam rangka mengatasi kerancuan-kerancuan ulang yang pernah dirasakan Descartes. Akan tetapi juga melebihi Descartes, kerancuan itu justru mucul setelah upaya dekonstruksi yang telah dilakukan Descartes. Kant melihat adanya benturan-benturan epistemologis oleh para pemikir pendahulunya. Terutama benturan antara epistemologi rasional yang berkembang di Jerman yang dikembangkan Leibniz dan Wolff dengan epistemologi empiris di Inggris yang telah disempurnakan Hume.
Merujuk pada perbenturan dua aliran tersebut, dalam filsafatnya, Kant tidak bermaksud untuk menyimpulkan dan mengambil alih salah satunya. Karena keduanya dianggap tidak menyelesaikan masalah. Kekeliruan masing-masing adalah: empirisme tidak memiliki konsep untuk menggambarkan pengalaman dan rasionalisme juga tidak memperhatikan pengalaman.
Yang dilakukan Kant untuk mengatasi dua aliran tersebut adalah mempertahankan obyektivitas, universalitas, dan keniscayaan pengertian pada satu sisi serta menerima pengetian yang bertitik tolak pada fenomena. Bahwa yang dilakukan Kant adalah membuat perpaduan yang berarti tidak dapat diamati sebagai suatu proses tetapi selalu harus diandaikan sebagai suatu akibat. Inilah yang kemudian disebut dengan ”transendental”. 

3. Metode Metafisika (Barat)
Melampaui sedikit dari uraian tokoh degan sistem metafisikanya, pada bagian ini akan sedikit membuka ruang yang lebih luas lagi. Dari metode dialogis Socrates hingga hermeneutika Heiddeger.
Dalam metode metafisika, sekurang-kurangnya dapat disebutkan enam metode. Antara lain:
  • Dialogis Socrates (mencari definisi menuju inti)
  • Dialogis Plato (hakikat yang tetap dari yang berubah, metode ini juga disebut dengan idealisme yang tetap)
  • Abstraksi Aristoteles (memahami aksident yang tidak tetap menuju esensi yang tetap, metode ini juga disebut dengan asumsi yang ada)
  • Tiga Tahap Plotinus (analogia: menyamakan yang tetap pada yang tidak tetap; negativa: memberikan definisi hingga negatif; dan emanasia:pancaran yang tetap pada yang tidak tetap)
  • Dialektika Hegel (realitas adalah proses, tesis [Being]-anti tesis [non Being]-sintesis [becoming])
  • Hermeneutika Heiddeger (bertolak dari teks [bayan] atau yang biasa disebut dengan tafsir)
Pada kesempatan yang lain, kita akan mengupasnya secara lebih rinci.


Kritik
Mengacu pada dinamika metafisika yang seakan tidak berpenghujung, selalu ada celah untuk melakukan koreksi terhadap hasil final metafisika, menunjukkan indikasi-indikasi berikut:
  • Jangan-jangan konsep di dalam metafisika tidak valid
  • Data-datanya yang tidak konkret sehingga sulit untuk dilakukan verifikasi
  • Jangan-jangan metafisika itu tidak fungsional dan sama sekali tidak bermanfaat


Penutup
Demikian kiranya yang dapat kami susun sebagai tugas akhir sementer matakuliah Ontologi/Metafisika. Bahwa di dalamnya masih jauh dari metafisika, sekiranya cukup menjadi pengantar dalam diskursus metafisika.
Akhirnya, terima kasih atas pembacaan dan apresiasinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.