12.2.13

REBUT TANAH LELUHUR


Muhammad Mahrus*

”Turun mana, Mas?” kondektur bus ekonomi yang kutumpangi bertanya padaku sambil memegang karcis yang ia siapkan. Cara yang sudah tak asing lagi bagi kondektur bus untuk minta ongkos pada penumpangnya.
Akupun langsung merogoh saku baju yang kukenakan. Dari awal aku memang sudan memparsiapkan uang buat ongkos di saku itu. Dompet juga kubawa serta, namun aku lebih suka menaruh uang di saku celana atau baju. ”Langsung Arjosari, Mas.” Kataku sambil mengulurkan uang dua puluh ribuan pada kondektur itu. Karcis diberikan padaku bersama kembaliannya. ”Makasih.” Kataku lagi. Dan kondektur itu melanjutkan tugasnya pada orang yang duduk di sebelahku. Kudengar, katanya ia juga mau turun di terminal yang sama denganku. Setelah mereka selesai transaksi, kami pun berkenalan dan kemudian ngobrol sedikit untuk basa-basi.
Udara dalam mobil terasa bertambah panas ketika bus jurusan Surabaya-Malang yang kutumpangi sedang berdesak-desakan dengan kendaraan lain di sepanjang jalan di Sidoarjo. Sopir masing-masing kendaraan sudah pasti resah dengan kemacetan ini. Dulu jalan ini tak pernah macet sebelum adanya luapan lumpur (yang menurut sebagian orang adalah lumpur) sialan ini. Lapindo, orang bilang kalau itu adalah bencana alam. Aku sendiri sampai sekarang masih belum yakin kalau itu benar-benar bencana alam. Tapi bukan itu maksudku, sopir-sopir angkot yang saling mengumpat entah pada siapa itu membuat bibirku sesekali tersenyum. Aku sendiri tak tahu apa sebenarnya yang membuat bibirku tersenyum, padahal perasaanku sedang kacau. Terbesit dalam otakku ternyata orang-orang malang sepertiku, dan seperti sopir-sopir itu, hanya dijadikan mainan oleh elite-elite yang biasanya, aku dan teman-temanku meyebutnya beruang-beruang berdasi. Lalu pikiranku, kubawa pulang ke kampungku. Tempat sandaran orang-orang yang senasib sepenanggungan.
@@@
Tahun 1998 adalah moment bersejarah yang selalu terukir dalam otakku. Perihal rasa tak tahan warga desaku dan desa-desa lain yang sudah lama kelaparan, krisis moneter, krisis pendidikan, etika, moral dan banyak lagi krisis yang lain telah menyulut kemarahan saudara-saudaraku warga Tlogosari terutama. Puluhan hektar kebun coklat, kopi dan karet dibabat semua tanpa sisa. Masih jelas dalam ingatanku, malam pertama aksi itu dilaksanakan. Aku dan teman-temanku sedang main karambol di teras rumah bibi. Malam itu jarum jam menunjukkan sekitar jam sepuluhan. Adik sepupuku yang ikut nonton permainan kami, agak kaget ketika melihat Pak RW berhenti di depan rumahnya. Kerena memang tidak biasanya beliau ronda jam segituan. Dan lagi, ronda kampung memang sudah lama tak jalan.
“Nanti jam dua belas, Bapak-Emak kalian suruh kumpul di rumah Boinah, Waru,” ia tak meneruskan perkataannya, tapi ia memberi semacam pertanda yang sudah kupahami. Ia mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan menyilangkan kedua lengannya itu, persis seperti huruf X.
Permainan yang biasanya baru selesai jam dua belas paling awal, otomatis kami hentikan dan bubar seketika. adikku yang hanya menjadi suprter permainan akhirnya ngalah, ia kemudian tidur lebih awal juga. Sedangkan aku baru pulang setelah menyampaikan pesan pak RW pada bibi dan pamanku, tanpa sepengetahuan Totok, adik sepupuku.
###
Sengaja malam itu aku menunggu kabar dari Pak RW sambil main karambol di rumah Totok. Kuajak teman-teman biar tidak terlalu jenuh, karena kabar itu bisa jadi baru sampai tengah malam. Tak seperti yang kubayangkan, ternyata Pak RW datang lebih awal. Sejenak kemudian kami menyudahi permainan kami. Kami yang pulang bermaksud segera menyampaikan pesan itu pada Bapak-Ibu kami masing-masing.
”Sesuatu yang besar akan terjadi pikirku.” Dan aku harus turut andil dalam catatan sejarah yang bakal terjadi. Aku sedikit memaksa pada Bapak untuk ikut, tapi Bapak melarang dengan berbagai macam alasan yang akhirnya aku tetap tak boleh. Dengan berat hati aku masuk kamar dan kurebahkan tubuh ke lincak bambu kesayangan yang selalu menjadi alas tidurku. Kutilik jam di dinding sudah menunjukkan jam setengah dua belas lebih empat menit. Ngantuk tak kunjung datang, malah pikiran ikut mengukir sejarah yang terbayang. Akhirnya kuputuskan untuk ikut juga meski tanpa persetujuan Bapak dan memang takkan bilang aku padanya. Kudengar barusan Bapak sudah keluar yang diikuti suara Emak mengunci pintu dari luar. Pertanda mereka sudah berangkat. Saatnya beraksi. Kutanggalkan sarung apek yang biasa kugunakan untuk penghangat tubuh, tak lupa caluk kesayangan di kandang belakang kubawa serta. Aku tahu bahwa aku tidak boleh ketahuan siapapun untuk menuju tempat ngumpul sebagaimana yang kabarkan Pak RW.  
###
Dari jarak sekitar dua puluh meter, kudengar Pak Sam’un sudah ngomong di depan orang-orang yang sedang berkumpul itu. Kemudian beberapa orang masuk ke dalam rumah Mak Boinah, termasuk Pak Sam’un Sendiri dan Bapak. Emak kulihat berada di barisan paling depan. Kemudian aku masuk ke barisan paling belakang. Di tempat itu hanya ada beberapa saja anak yang sebaya denganku, dan kesanalah aku berkumpul.
“Kirain kau tak ikut Dik ?” kata Sarto dari belakang.
“Masa hal sepenting ini mau tiduran di rumah.” Jawabku ringan.
“Hualah, paling juga endap-endapan.” Sahut Parno, temanku satunya.
“Iya lah, buktinya Emak-Bapaknya dari tadi datangnya.” Kata Sidi, temanku yang lain.
”Buset, mereka sudah tahu,” pikirku. “Sok tahu aja kalian, yang penting aku memang tak boleh diam  dan hanya menunggu di rumah.”
“Sepakat !!!” sela Sidi bersemangat.  
“Siipz, kita sudah sepantasnya ikut mengukir sejarah ini.” Tambah Parno tak kalah.
“Ehh, tuh mereka sudah pada keluar.” Kata Sarto sambil menunjuk ke dalam rumah. Kami pun melongo melihat situasi itu.
“Ehm, Bapak Ibu sekalian, saya minta waktu barang sebentar.” Kata Pak RW. Sejenak kemudian ia meneruskan “setelah ini kita akan berangkat, namun sebelumnya, Pak Sam’un akan menjelaskan gambaran terhadap apa yang akan kita kerjakan nanti dan untuk seterusnya.” Ia diam sekali lagi untuk memberika jeda ucapannya. Dengan sedikit menunduk, Pak RW memakai jempolnya untuk menghaturkan tepat pada Pak Sam’un seraya berucap, ”Silahkan Pak.”
Sebagai orang yang dituakan di Desa Tlogosari, Pak Sam’un memang orang yang bertanggung jawab dan terkenal berdisiplin tinggi meski tanpa mengenyam bangku sekolah dasar sekalipun. Ketika ia sedang berorasi sedikit tentang acara yang bakal mereka laksanakan mulai malam itu juga, semua orang yang hadir, termasuk aku, khusuk menyimak tiap kata yang ia ucapkan. Sebelum mengakhiri orasinya, ia minta tolong pada tim panitia untuk membagi orang-orang yang hadir masing-masing sepuluh orang dengan satu orang sebagai ketua kelompok. Aku sendiri semakin semangat ketika jumlah kelompok yang ada, mencapai hampir delapan puluhan. Dan di akhir orasinya, ia mengakatakan bahwa sekenario tersebut sudah dirancang oleh tim panitia bersama para sesepuh desa dan sudah disosialisasikan pada rekan-rekan dari daerah lain untuk dijalankan secara serempak. Terakhir, masing-masing dari kelompok tersebut akan dibawa seorang coordinator untuk memulai tetel kebun tersebut dari titik yang berbeda. Ketika pembagian kelompok itu, sengaja aku misah dari kelompok Bapak-Emakku. Aku tidak mau mereka tahu dan akhirnya mengusirku untuk pulang.
###
Malam itu sengaja dipilih saat bulan purnama. Hal itu ditujukan agar kami masih dapat melihat dengan bebas tanpa bantuan penerang seperti obor dan senter. Lagi pula, ada semacam kesepakatan yang tidak tertulis dan bahkan terucap tentang aksi kami itu. Apalagi di daerah kami masih ada kompleks para mandor kebun yang sewaktu-waktu bisa saja menghambat. Aku mendengar selintingan kelompok Bapak-Emak yang digiring ke titik paling timur yang kami kenal dengan daerah gunung Bathok dan akan menyisir ke arah barat. Kemudian kelompok-kelompok lain yang akan menyisir dari titik masing-masing dan kemudian kami akan bertemu di tengah-tengah kebun seluas dua ratus tujuh puluh hektar itu. Sedangkan semua anggota kelompokku digiring ke salah satu titik di daerah perbatasan dengan desa Sumber Manggis, Desa yang terletak di selatan Desa kami. Dari titik itu kami langsung membabat pohon demi pohon seperti coklat, kopi, karet dan bahkan cengkeh yang berada di depan kami. Lahan seluas itu kami target akan selesai dalam satu minggu dimulai malam itu.
Konservasi lahan yang kami lakukan tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Sebab semua itu memang seuatu ekspresi terhadap kondisi tata pemerintahan yang amburadul. Waktu itu, kabar di di ibukota yang sampai ke desa kami, juga sedang panasnya perang saudara dan saling menjatuhkan. Sebenarnya tidak banyak dari kami yang tahu betul tentang tujuan dari tindakan kami. Namun, paling tidak ada satu hal yang bisa menyatukan kami semua, yaitu kondisi perekonomian yang semakin mencekik. Apalagi jika dilihat dari pekerjaan warga desa kami waktu itu sudah tidak mungkin lagi bisa menjamin kelangsungan hidup. Aku sendiri tidak berpikir jauh waktu itu. Yang ada di otakku hanyalah, aku harus ikut mengukir sejarah besar dalam rangka mensyukuri tumbangnya rezim orde-baru.
@@@
Perjalanan panjangku, antara Surabaya-Malang, yang akhirnya berhenti di terminal Arjosari, mengembalikan bayangan masa laluku pada peradabannya; mengambalikakan kesadaranku pada tempatnya semula; pada realiatas yang sedang kuhadapi. Satu hal yang kemudian tetap tinggal hingga terbawa pada kenyataan hidupku saat ini; satu hal yang ada di otak kami semua ketika itu, secara keseluruhan:

Kami punya cara tersendiri untuk tersenyum
Kami punya cara tersendiri untuk bersyukur
Karena kami beda dengan orang lain
Karena kami bukanlah mereka
Karena kami bukanah mereka
Karena kami adalah kami
Yogyakarta, 2008

*Alumni PP Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang. Sekarang sedang menenpuh Studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat. Dan menjadi Editor di Buletin Jurusan: Bejads Rasan-Rasan.




0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.