Muhammad Mahrus*
”Turun mana,
Mas?” kondektur bus ekonomi yang kutumpangi bertanya padaku sambil memegang
karcis yang ia siapkan. Cara yang sudah tak asing lagi bagi kondektur bus untuk
minta ongkos pada penumpangnya.
Akupun
langsung merogoh saku baju yang kukenakan. Dari awal aku memang sudan
memparsiapkan uang buat ongkos di saku itu. Dompet juga kubawa serta, namun aku
lebih suka menaruh uang di saku celana atau baju. ”Langsung Arjosari, Mas.”
Kataku sambil mengulurkan uang dua puluh ribuan pada kondektur itu. Karcis
diberikan padaku bersama kembaliannya. ”Makasih.” Kataku lagi. Dan kondektur
itu melanjutkan tugasnya pada orang yang duduk di sebelahku. Kudengar, katanya
ia juga mau turun di terminal yang sama denganku. Setelah mereka selesai
transaksi, kami pun berkenalan dan kemudian ngobrol sedikit untuk basa-basi.
Udara dalam
mobil terasa bertambah panas ketika bus jurusan Surabaya-Malang yang kutumpangi
sedang berdesak-desakan dengan kendaraan lain di sepanjang jalan di Sidoarjo.
Sopir masing-masing kendaraan sudah pasti resah dengan kemacetan ini. Dulu
jalan ini tak pernah macet sebelum adanya luapan lumpur (yang menurut sebagian
orang adalah lumpur) sialan ini. Lapindo, orang bilang kalau itu adalah bencana
alam. Aku sendiri sampai sekarang masih belum yakin kalau itu benar-benar
bencana alam. Tapi bukan itu maksudku, sopir-sopir angkot yang saling mengumpat
entah pada siapa itu membuat bibirku sesekali tersenyum. Aku sendiri tak tahu
apa sebenarnya yang membuat bibirku tersenyum, padahal perasaanku sedang kacau.
Terbesit dalam otakku ternyata orang-orang malang sepertiku, dan seperti
sopir-sopir itu, hanya dijadikan mainan oleh elite-elite yang biasanya, aku dan
teman-temanku meyebutnya beruang-beruang berdasi. Lalu pikiranku, kubawa
pulang ke kampungku. Tempat sandaran orang-orang yang senasib sepenanggungan.
@@@
Tahun 1998
adalah moment bersejarah yang selalu terukir dalam otakku. Perihal rasa tak
tahan warga desaku dan desa-desa lain yang sudah lama kelaparan, krisis moneter,
krisis pendidikan, etika, moral dan banyak lagi krisis yang lain telah menyulut
kemarahan saudara-saudaraku warga Tlogosari terutama. Puluhan hektar kebun
coklat, kopi dan karet dibabat semua tanpa sisa. Masih jelas dalam ingatanku,
malam pertama aksi itu dilaksanakan. Aku dan teman-temanku sedang main karambol
di teras rumah bibi. Malam itu jarum jam menunjukkan sekitar jam sepuluhan. Adik
sepupuku yang ikut nonton permainan kami, agak kaget ketika melihat Pak RW
berhenti di depan rumahnya. Kerena memang tidak biasanya beliau ronda jam
segituan. Dan lagi, ronda kampung memang sudah lama tak jalan.
“Nanti jam
dua belas, Bapak-Emak kalian suruh kumpul di rumah Boinah, Waru,” ia tak
meneruskan perkataannya, tapi ia memberi semacam pertanda yang sudah kupahami.
Ia mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan menyilangkan kedua lengannya
itu, persis seperti huruf X.
Permainan
yang biasanya baru selesai jam dua belas paling awal, otomatis kami hentikan
dan bubar seketika. adikku yang hanya menjadi suprter permainan akhirnya ngalah,
ia kemudian tidur lebih awal juga. Sedangkan aku baru pulang setelah
menyampaikan pesan pak RW pada bibi dan pamanku, tanpa sepengetahuan Totok,
adik sepupuku.
###
Sengaja
malam itu aku menunggu kabar dari Pak RW sambil main karambol di rumah Totok.
Kuajak teman-teman biar tidak terlalu jenuh, karena kabar itu bisa jadi baru
sampai tengah malam. Tak seperti yang kubayangkan, ternyata Pak RW datang lebih
awal. Sejenak kemudian kami menyudahi permainan kami. Kami yang pulang
bermaksud segera menyampaikan pesan itu pada Bapak-Ibu kami masing-masing.
”Sesuatu
yang besar akan terjadi pikirku.” Dan aku harus turut andil dalam catatan
sejarah yang bakal terjadi. Aku sedikit memaksa pada Bapak untuk ikut, tapi
Bapak melarang dengan berbagai macam alasan yang akhirnya aku tetap tak boleh.
Dengan berat hati aku masuk kamar dan kurebahkan tubuh ke lincak bambu
kesayangan yang selalu menjadi alas tidurku. Kutilik jam di dinding sudah
menunjukkan jam setengah dua belas lebih empat menit. Ngantuk tak kunjung
datang, malah pikiran ikut mengukir sejarah yang terbayang. Akhirnya kuputuskan
untuk ikut juga meski tanpa persetujuan Bapak dan memang takkan bilang aku
padanya. Kudengar barusan Bapak sudah keluar yang diikuti suara Emak mengunci
pintu dari luar. Pertanda mereka sudah berangkat. Saatnya beraksi. Kutanggalkan
sarung apek yang biasa kugunakan untuk penghangat tubuh, tak lupa caluk
kesayangan di kandang belakang kubawa serta. Aku tahu bahwa aku tidak boleh
ketahuan siapapun untuk menuju tempat ngumpul sebagaimana yang kabarkan Pak RW.
###
Dari jarak
sekitar dua puluh meter, kudengar Pak Sam’un sudah ngomong di depan orang-orang
yang sedang berkumpul itu. Kemudian beberapa orang masuk ke dalam rumah Mak
Boinah, termasuk Pak Sam’un Sendiri dan Bapak. Emak kulihat berada di barisan
paling depan. Kemudian aku masuk ke barisan paling belakang. Di tempat itu
hanya ada beberapa saja anak yang sebaya denganku, dan kesanalah aku berkumpul.
“Kirain kau
tak ikut Dik ?” kata Sarto dari belakang.
“Masa hal sepenting
ini mau tiduran di rumah.” Jawabku ringan.
“Hualah,
paling juga endap-endapan.” Sahut Parno, temanku satunya.
“Iya lah,
buktinya Emak-Bapaknya dari tadi datangnya.” Kata Sidi, temanku yang lain.
”Buset, mereka sudah tahu,” pikirku. “Sok tahu aja kalian, yang
penting aku memang tak boleh diam dan
hanya menunggu di rumah.”
“Sepakat
!!!” sela Sidi bersemangat.
“Siipz, kita
sudah sepantasnya ikut mengukir sejarah ini.” Tambah Parno tak kalah.
“Ehh, tuh
mereka sudah pada keluar.” Kata Sarto sambil menunjuk ke dalam rumah. Kami pun
melongo melihat situasi itu.
“Ehm, Bapak
Ibu sekalian, saya minta waktu barang sebentar.” Kata Pak RW. Sejenak kemudian
ia meneruskan “setelah ini kita akan berangkat, namun sebelumnya, Pak Sam’un
akan menjelaskan gambaran terhadap apa yang akan kita kerjakan nanti dan untuk
seterusnya.” Ia diam sekali lagi untuk memberika jeda ucapannya. Dengan sedikit
menunduk, Pak RW memakai jempolnya untuk menghaturkan tepat pada Pak Sam’un
seraya berucap, ”Silahkan Pak.”
Sebagai
orang yang dituakan di Desa Tlogosari, Pak Sam’un memang orang yang bertanggung
jawab dan terkenal berdisiplin tinggi meski tanpa mengenyam bangku sekolah
dasar sekalipun. Ketika ia sedang berorasi sedikit tentang acara yang bakal
mereka laksanakan mulai malam itu juga, semua orang yang hadir, termasuk aku,
khusuk menyimak tiap kata yang ia ucapkan. Sebelum mengakhiri orasinya, ia
minta tolong pada tim panitia untuk membagi orang-orang yang hadir
masing-masing sepuluh orang dengan satu orang sebagai ketua kelompok. Aku
sendiri semakin semangat ketika jumlah kelompok yang ada, mencapai hampir
delapan puluhan. Dan di akhir orasinya, ia mengakatakan bahwa sekenario
tersebut sudah dirancang oleh tim panitia bersama para sesepuh desa dan sudah
disosialisasikan pada rekan-rekan dari daerah lain untuk dijalankan secara
serempak. Terakhir, masing-masing dari kelompok tersebut akan dibawa seorang
coordinator untuk memulai tetel kebun tersebut dari titik yang berbeda. Ketika
pembagian kelompok itu, sengaja aku misah dari kelompok Bapak-Emakku. Aku tidak
mau mereka tahu dan akhirnya mengusirku untuk pulang.
###
Malam itu
sengaja dipilih saat bulan purnama. Hal itu ditujukan agar kami masih dapat
melihat dengan bebas tanpa bantuan penerang seperti obor dan senter. Lagi pula,
ada semacam kesepakatan yang tidak tertulis dan bahkan terucap tentang aksi
kami itu. Apalagi di daerah kami masih ada kompleks para mandor kebun yang
sewaktu-waktu bisa saja menghambat. Aku mendengar selintingan kelompok
Bapak-Emak yang digiring ke titik paling timur yang kami kenal dengan daerah
gunung Bathok dan akan menyisir ke arah barat. Kemudian kelompok-kelompok lain
yang akan menyisir dari titik masing-masing dan kemudian kami akan bertemu di
tengah-tengah kebun seluas dua ratus tujuh puluh hektar itu. Sedangkan semua
anggota kelompokku digiring ke salah satu titik di daerah perbatasan dengan
desa Sumber Manggis, Desa yang terletak di selatan Desa kami. Dari titik itu
kami langsung membabat pohon demi pohon seperti coklat, kopi, karet dan
bahkan cengkeh yang berada di depan kami. Lahan seluas itu kami target akan
selesai dalam satu minggu dimulai malam itu.
Konservasi
lahan yang kami lakukan tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Sebab semua itu
memang seuatu ekspresi terhadap kondisi tata pemerintahan yang amburadul. Waktu
itu, kabar di di ibukota yang sampai ke desa kami, juga sedang panasnya perang
saudara dan saling menjatuhkan. Sebenarnya tidak banyak dari kami yang tahu
betul tentang tujuan dari tindakan kami. Namun, paling tidak ada satu hal yang
bisa menyatukan kami semua, yaitu kondisi perekonomian yang semakin mencekik.
Apalagi jika dilihat dari pekerjaan warga desa kami waktu itu sudah tidak mungkin lagi
bisa menjamin kelangsungan hidup. Aku sendiri tidak berpikir jauh waktu itu.
Yang ada di otakku hanyalah, aku harus ikut mengukir sejarah besar dalam rangka
mensyukuri tumbangnya rezim orde-baru.
@@@
Perjalanan
panjangku, antara Surabaya-Malang, yang akhirnya berhenti di terminal Arjosari,
mengembalikan bayangan masa laluku pada peradabannya; mengambalikakan kesadaranku
pada tempatnya semula; pada realiatas yang sedang kuhadapi. Satu hal yang
kemudian tetap tinggal hingga terbawa pada kenyataan hidupku saat ini; satu hal
yang ada di otak kami semua ketika itu, secara keseluruhan:
Kami punya
cara tersendiri untuk tersenyum
Kami punya
cara tersendiri untuk bersyukur
Karena kami
beda dengan orang lain
Karena kami
bukanlah mereka
Karena kami
bukanah mereka
Karena kami
adalah kami
Yogyakarta, 2008
*Alumni PP Raudlatul Ulum I
Ganjaran Gondanglegi Malang. Sekarang sedang menenpuh Studi di Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah
Filsafat. Dan menjadi Editor di Buletin Jurusan: Bejads Rasan-Rasan.




0 komentar:
Posting Komentar
Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.