Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

24.10.18

ISLAM DAN WAJAH YANG (RENTAN) TERTUKAR; Sebuah Wacana Pengantar


ISLAM DAN WAJAH YANG (RENTAN) TERTUKAR;
Sebuah Wacana Pengantar[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Membaca gerakan Islam secara utuh, tentu saja membutuhkan energi yang tidak sedikit. Mengingat, Islam sudah ada di penghujung pertengahan millennium yang kedua. Sementara, perkembangan gerakan Islam sendiri selalu berjalan dinamis dan niscaya. Ke arah mana? Tentu saja ke arah penghujung sejarah. Baik buruknya perubahan ini, akan terjadi sebagaimana keniscayaan itu sendiri.
Rasulullah Saw., telah menunaikan tugasnya sebagai manusia, Nabi, sekaligus Utusan Allah SWT. Melalui riwayat-riwayat dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kita telah belajar banyak hal sehingga kita dapat pula menunaikan tugas kemanusiaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Hanya saja, yang harus kita sadari, bahwa kita hidup di zaman yang cukup jauh dari Rasulullah Saw. Baik dari aspek sejarah, struktur sosial, dan struktur kebudayaan yang terpisah secara teritorial. Di sisi lain, kita juga harus bersyukur karena kita masih bisa menjadi bagian dari ummatnya yang terpilih dengan bimbingan dan arahan dari para pendahulu kita yang saleh.

19.8.15

EPISTEMOLOGI SASTRA PESANTREN

EPISTEMOLOGI SASTRA PESANTREN;
Sebuah Kajian Awal[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Pada abad ke-16, telah terjadi sebuah gerakan keagamaan yang bertujuan untuk memperbarui Gereja Katolik di Eropa. Dari gerakan keagamaan tersebut, berdirilah Gereja Protestan di Roma. Rupanya, gerakan inilah yang kemudian menjadi penanda dari istilah reformasi.[3] Pergulatan ini juga menandai pertikaian antara dogma dengan sains secara umum sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 di Eropa. Dalam pertikaian tersebut, tentu saja kemenangan ada di pihak sains. Dari pertikaian ini pula, lahirlah sebuah cara pandang modern sebagai bentuk kebalikan dari cara pandang abad pertengahan yang bermula di daratan Italia.[4] Dalam sejarahnya, era ini kemudian dikenal dengan renaisans.[5]

10.11.14

LOGIKA; SEBUAH PERTANYAAN ATAS PENGGUNAANNYA[1]


Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Saya kira, ada baiknya kita memberikan tempat untuk pembahasan logika[3] yang lebih ke depan. Dimana sudah pasti pembahasan tentang logika melulu dimulai dari definisi, sejarah, kemudian metode-metode dan segenap teori yang mesti melengkapi kajian di dalamnya. Namun demikian, bukan berarti penyusun mengesampingkan aspek terpenting dalam logika. Bahwa, semestinya logika harus dipahami sebagaimana cabang keilmuan lain yang sarat dengan istilah dan segala yang berkaitan dengannya.

13.9.14

PMII; SEJARAH, RUMAH, DAN MASA DEPAN



Disusun Oleh:
Tim Perumus Materi PKD PMII 
Rayon Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014

Historitas PMII
Sejarah masa lalu adalah cermin masa kini dan masa mendatang. Dokumen historis, merupakan instrumen penting untuk membaca diri. Tidak terkecuali PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Meski dokumen yang disajikan dalam tulisan ini terbilang kurang komplit, sosok organisasi mahasiswa tersebut sudah tergambar dengan jelas. Berikut pemikiran dan sikap-sikapnya.

22.4.14

FENOMENOLOGI

Telaah Atas Metode Epistemologi Edmund Husserl[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Realitas adalah kenyataan yang sesungguhnya; hakikat; kaadaan sesuatu yang riil, atau benar-benar ada.[3] Dari yang genap hingga yang disebut-sebut sebagai realitas yang ganjil. Realitas, sebagaimana definisi tersebut, jamak terjadi tanpa diiringi dengan kesadaran subyek yang mengalami realitas tersebut. Sehingga, tinggallah realitas tersebut sebagai fenomena yang berlalu begitu saja. Sementara, setiap fenomena yang mewujud sebagai sebuah realitas semestinya mendapatkan penyikapan dari setiap subyek.

8.2.13

QURAN AND ISLAMIC STUDIES


Oleh: Muhammad Mahrus


Pendahuluan
Kajian tentang orientalisme sudah dilakukan berulang-ulang sejak dari lahirnya kajian orientalisme sendiri lahir dan mulai berkembang. Di antara sekian banyak literatur, ada yang menyimpulakan bahwa wilayah kajian tersebut bermula sejak zaman daulah Islamiyah di Andalusia (Spanyol). Sebagian menyatakan bermulanya ketika terjadi Perang Salib. Khusus untuk orientalisme ketuhanan, munculnya ditetapkan secara resmi pada saat konsisi Gereja Viena tahun 1312 M. konsisi tersebut diaplikasikan dengan memasukkan mamteri bahasa Arab ke dalam berbagai universitas di Eropa.
Secara spesifik, pada tahun 1130, seorang kepala Uskup Toledo mulai menerjemahkan beberapa buku ilmiah Arab. Sedangkan kajian orientalisme mulai muncul pertama kali di Inggris pada pertengahan abad ke-18, pada tahun 1779. Kemudian Prancis menyusul pada tahun 1799. Sekitar 39 tahun berikutnya, pada tahun 1838, Orientalisme resmi masuk dalam kamus akademi Prancis.

1.1.13

GAGASAN SEKULERISASI NURCHOLISH MADJID

Sebuah Telaah atas Pemikiran Nurcholish Madjid[1]
Oleh: Muhammad Mahrus

      A.    Abstraksi
Pada awal mula kemerdekaan hingga permulaan orde baru, beberapa nama yang dikenal sebagai sarjana-sarjana muslim modernis (selain sebagai negarawan) telah memberikan cakrawala baru (yang juga disebut dengan neo-Modernisme) dalam jagat pemikiran Islam Indonesia. Beberapa gagasan mereka[2] yang paling popular antara lain adalah penetapan dan pengakuan terhadap Pancasila sebagai azas tunggal Negara Indonesia yang baru saja merdeka.
Karena, menurut Greg Barton, pada tahun-tahun tersebut isu-isu modernitas disebut-sebut sebagai cita-cita sosial bagi visi rezim orde baru di Indonesia. Kemudian adanya kebutuhan untuk belajar terhadap masa lalu kaitannya dengan sekterianisme dalam wilayah politik.

22.12.12

AKU MENULIS MAKA AKU ADA

Aku Menulis Maka Aku Ada[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Semacam Abstraksi
Tradisi menulis di dunia Islam sebenarnya sudah dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidun, terutama pada masa khalifah Utsman bin Affan, ra. Dimana sejarah ditulisnya Al-Qur’an pertama kali dilakukan secara komprehensif. Tradisi ini kemudian dikembangkan seiring perkembangan pemikiran Islam pada masa Bani Abasiyah. Dalam hal ini khalifah Abasiyah (Harun al-Rasyid) menunjukkan keseriusannya dengan memediasi tradisi tulis menulis ini dengan perpustakaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah Daulah Islam. Keseriusan ini kemudian dilanjutkan dengan kebijakan khalifah Al-Makmun dibantu para filsuf Islam periode awal seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan Al-Farabi.[3] Para pemikir Islam inilah yang kemudian menjadi pemantik para pemikir selanjutnya seperti Al-Ghazali,[4] Suhrawardi,[5] Mulla Sadra,[6] dan seterusnya.

20.12.12

ANALISA DIRI

Oleh: Muhammad Mahrus

Abstraksi
Diskursus tentang Analisa Diri (Andir), biasanya bermula dengan mempertanyakan identitas seseorang (manusia) kaitannya dengan Alam, Tuhan, dan sesamanya di dunia. Kemudian, pada arah mana sekiranya orientasi yang mesti dipilih dalam menjalani kehidupannya sebagai manifestasi hidup yang sesungguhnya. Karenanya, pembahasan mengenai Andir ini setidaknya akan dibatasi dalam dua kebutuhan dasar untuk mengenali dan menentukan arah hidup dengan sebenar-banarnya hidup.
Adanya teori bahwa kebenaran itu relative (Jurgen Habermas) barangkali akan sekilas saja akan mewarnai diskursus ini. Atau bahkan dalam setiap dikursus. Tetapi, dalam tema ini sebisa mungkin akan dipetakan secara intersubyektif dengan melihat pandangan para tokoh mengenai konsep tata hidup manusia sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Mengingat, kebutuhan kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara sekarang ini terlihat semakin rentan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.

PESANTREN DAN POP CULTURE


PESANTREN DAN POP CULTURE[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Abstraksi
Diskursus tentang pesantren memang selalu menarik untuk dibahas. Terutama ketika pesantren dikaitkan dengan tema-tema tertentu yang seakan tidak ada sangkut pautnya dengan pesantren itu sendiri. Akan tetapi, begitulah pesantren. Sederhana dalam kompleksitas pergulatannya dengan sejarah perjalanan dunia. Karena pesantren sebagai subkultur. Meskipun istilah ini masih dalam upaya pengenalan identitas kultural oleh kalangan dari luar terhadap persantren.[3]
Untuk membaca pesantren, setidaknya terdapat tiga tipologi. Pertama, pesantren salaf/tradisional. Model pesantren ini merupakan model pesantren asli dalam arti metode dan cara pengajarannya masih seperti model pesantren awal. Berdiri atas dasar kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas intelektual Kyai lalu dibangunlah pondokan-pondokan permanen sebagai tempat tinggal para santri. Cara mengajarnya juga khas dengan metode bandongan, wekton, dan sorogan. Dan sampai hari ini masih banyak pesantren yang menggunakan tipologi tersebut.