EPISTEMOLOGI
SASTRA PESANTREN;
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Abstraksi
Pada abad ke-16, telah terjadi sebuah gerakan keagamaan
yang bertujuan untuk memperbarui Gereja Katolik di Eropa. Dari gerakan
keagamaan tersebut, berdirilah Gereja Protestan di Roma. Rupanya, gerakan
inilah yang kemudian menjadi penanda dari istilah reformasi.[3]
Pergulatan ini juga menandai pertikaian antara dogma dengan sains secara umum sejak
abad ke-14 sampai abad ke-17 di Eropa. Dalam pertikaian tersebut, tentu saja kemenangan
ada di pihak sains. Dari pertikaian ini pula, lahirlah sebuah cara pandang
modern sebagai bentuk kebalikan dari cara pandang abad pertengahan yang bermula
di daratan Italia.[4]
Dalam sejarahnya, era ini kemudian dikenal dengan renaisans.[5]
Gerakan renaisans Italia ini kemudian diikuti oleh sebagian
besar intelektual Italia saja. Sementara sebagian yang lain sebenarnya masih
patuh pada cara pandang abad pertengahan. Ketidaksepemahaman inilah yang
kemudian juga memicu pro-kontra seputar gerakan reformasi. Meskipun demikian,
kita tidak akan membahas terlalu dalam persoalan renaisans Italia. Biarlah
untuk sementara ini menjadi pengetahuan tentang sejarah ilmu pengetahuan di
Eropa secara umum dan dimulainya era modern.
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa modernisme juga
mengakibatkan pro-kontra seputar reformasi. Sementara reformasi sendiri tidak
melulu pada wilayah ilmu pengetahuan dan agama semata. Akan tetapi juga mencakup wilayah seni dan
sastra. Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, di belahan Negara Eropa yang
lain juga mengalami kebangkitan sastra selain ilmu pengetahuan dan filsafat.
Kita ambil contoh Negara Inggris dan Perancis. Di Inggris, pada abad ke-17
lahir karya-karya sastra fenomenal seperti karya-karya Shakesphere, Webster,
Marvel, dan Milton. Pada saat yang sama, di Perancis lahir karya-karya besar
Corneille dan Racine.
[6]
Di belahan bumi yang lain, abad pertengahan di Eropa adalah
penanda kebangkitan ilmu pengetahuan Islam di daratan Timur Tengah. Khususnya
pada era kepemimpihan Khalifah Abbasiyah. Ketika itu Khalifah Al-Manshur dan
dilanjutkan Khalifah Harun Al-Rasyid mulai memberikan dukungan kepada para
intelektual muslim untuk menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani hingga
dibangunlah sebuah monumen pengetahuan Islam dalam wujud perpustakaan (Baitul Hikmah). Kebijakan pembangunan
peradaban ini dilanjutkan pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Makmun (putera
Khalifah Harun Al-Rasyid).[7]
Merujuk pada sejarang gemilang Dinasti Abbasiyah yang
berpusat di kota Baghdad pada waktu itu, gerakan penerjemahan secara
besar-besaran memang dilakukan pada masa kepemimpinan tiga Khalifah Abbasiyah
di atas. Bermula dengan penerjemahan karya-karya dalam bidang astronomi dan
mantiq pada fase pertama. Di fase kedua, gerakan penerjemahan tersebut mulai
masuk ke karya-karya filsafat dan kedokteran. Pada fase ketiga, setelah tahun
300 H, gerakan ini semakin meluas.
Secara umum, bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang
di Baghdad terbagi menjadi dua kategori; bidang agama dan bidang umum. Bidang
agama meliputi Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, dan Ilmu Bahasa. Di
bidang umum meliputi Filsafat, Ilmu Kedokteran, Matematika, Farmasi, Ilmu
Astronomi, Geografi, sejarah, dan Sastra. Dalam bidang umum yang terakhir
inilah kita kemudian mengenal salah seorang penyair yang dikenal dengan nama
Abu Nuwas. Selain itu juga ada satu karya sastra yang ditulis oleh An-Nasyasi
dengan judul Seribu Satu Malam yang
fenomenal. Judul asli dari karya sastra ini adalah Alfu Lailah wa Lailah (The Arabian Night) yang kemudian
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.[8]
Dalam perjalanan sejarahnya, kejayaan Dinasti Abbasiyah
harus berakhir meskipun Islam pada waktu itu sudah berkembang pesat sampai di daratan
Eropa. Spanyol adalah Negara yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan
tersebut. Pengaruh ini antara lain terjadi akibat berdirinya
universitas-universitas Islam di samping perkembangan politik dan ekonomi
internasional. Sehingga terjadilah sebuah transmisi ilmu pengetahuan dari para
intelektual muslim di Timur Tengah ke Eropa. Pengaruh ilmu pengetahuan yang
terjadi pada abad ke-12 sampai abad ke-14 inilah yang rupanya membidani
semangat gerakan renaisans di Eropa.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa semangat
gerakan renaisans di Eropa inilah yang melahirkan era modernisme. Pada fase ini
lahir ideologi-ideologi besar di dunia; kapitalisme, sosialisme, marxisme, dan
seterunya. Sebagai sebuah bangunan epistemologi ilmu pengetahuan, tentu saja
terjadi keterkaitan antara sebuah ideologi dengan produk-produk ilmu
pengetahuan yang berkembang dan saling berkaitan. Termasuk cabang kesusateraan
yang berkembang di era-era berikutnya.
Kilas Balik Tradisi Menulis di Dunia Pesantren
Sebagai sebuah tradisi, menulis sudah dimulai sejak masa
Khulafaur Rasyidun, terutama pada masa khalifah Utsman bin Affan, ra. Dimana
sejarah ditulisnya Al-Qur’an pertama kali dilakukan secara komprehensif.
Tradisi ini kemudian dikembangkan seiring perkembangan pemikiran Islam pada
masa Bani Abasiyah. Dalam hal ini khalifah Abasiyah (Harun al-Rasyid)
menunjukkan keseriusannya dengan memediasi tradisi tulis menulis ini dengan
perpustakaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah Daulah Islam. Keseriusan
ini kemudian dilanjutkan dengan kebijakan khalifah Al-Makmun dibantu para
filsuf Islam periode awal seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan
Al-Farabi.[9]
Para pemikir Islam inilah yang kemudian menjadi pemantik para pemikir
selanjutnya seperti Al-Ghazali,[10]
Suhrawardi,[11]
Mulla Sadra,[12]
dan seterusnya. Sejak itu pula lahir para pemikir-pemikir Islam dengan tradisi
tulis-menulisnya.
Dalam konteks Islam Indonesia, yang paling konsisten dalam
menjaga warisan tradisi ini hanya kalangan pesantren. Meskipun, bukan berarti
selain pesantren tidak ada lembaga pendidikan lain yang melakukan aktivitas
tulis-menulis. Tetapi, sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantrenlah yang
mampu menjaganya secara utuh. Dalam arti, ruang transformasi ilmu pengetahuan
yang dimaksud di atas relatif lebih luas. Misalnya, fenomena seorang santri
baru yang harus menghafal nadzam ‘Aqidatul Awam sebagai pelajaran
pertama dalam mendalami ilmu tauhid (setingkat SD/MI). Sampai di sini, si
santri baru secara tidak langsung sedang belajar (setidaknya) tiga ilmu: nahwu-sharraf,
‘arudh, dan murad-nya.
Aktivitas Menulis
dan Karya Tulis
Dalam aktivitas ini, pada dasarnya seorang penulis sedang
melakukan aktivitas berfikir. Dimana, tidak akan ada sesuatu yang akan tertuang
dalam bentuk karya tulis ketika tidak ada buah pemikiran yang diproduksi
sebelum atau ketika menulis. Sementara, dalam waktu yang sama, seorang penulis
sedang melakukan sebuah pembacaan tentang produk pemikiran yang akan atau
sedang ditulis. Oleh karena itu, menulis adalah akumulasi dari aktivitas
berfikir dan membaca.
Produk pemikiran yang dimaksud tergantung pada karya tulis
yang akan dibuat. Secara umum, karya tulis dibagi menjadi dua bentuk: fiksi dan
non fiksi. Karya-karya yang tergolong sebagai karya tulis fiksi, secara umum
disebut dengan karya sastra. Biasanya dikenal dengan istilah prosa, novel,
novelet, cerpen, dan puisi. Sementara, karya yang berbentuk non fiksi, secara
umum disebut dengan karya tulis ilmiah dan populer, termasuk di dalamnya antara
lain seperti karya jurnalistik.
Pada perkembangannya bentuk-bentuk karya tulis ini
mengalami proses akulturasi. Sehingga sering kita jumpai sebentuk karya sastra
yang bercerita tentang sebuah kehidupan nyata. Begitu juga sebaliknya, ada di
antara karya non fiksi yang ditulis dalam gaya sastra. Meskipun demikian,
masing-masing masih tetap dalam nilai dan etikanya. Kolom-kolom H. Mahbub
Djunaedi,[13]
misalnya. Hampir dalam setiap kalimatnya, Mahbub mampu membuat pembaca
terpingkal-pingkal dan tanpa sadar sebenarnya si pembaca sedang diajak
“keliling dunia”. Serta tidak jarang Mahbub sebenarnya mengajak para pembacanya
“menangis” dan “marah” akan sebuah realitas sosial yang timpang.[14]
Kesemuanya diramu dalam kolom-kolom yang ditulisnya sejak awal tahun ’70-an.
Contoh lain seperti KH. Saifudin Zuhri.[15]
Sebagaimana H. Mahbub Djunaedi, beliau juga dikenal sebagai penulis dengan
genre serupa. Karya-karyanya yang non fiksi ditulis hampir menyerupai sebuah
cerita fiksi. Pembaca yang tidak tahu konteks karyanya, pasti mengira karyanya
tak ubahnya semisal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
Dari bentuk karya cerpen dan puisi, kita bisa menilik karya-karya agung KH. Mustofa Bisri, Acep Zamzam Noor, dan D.
Zawawi Imron. Dengan karya-karyanya, para penulis sepuh tersebut mengajarkan pada
kita bagaimana mencari ilmu, mengasahnya, serta mengamalkan ilmu pengetahuan
yang sudah diperoleh.
Terlepas dari konteks wacana tersebut, sederet nama-nama
penulis besar di atas adalah orang-orang pesantren yang senantiasa menjaga
tradisi tulis-menulis. Belum lagi nama-nama besar lain seperti KH. Abdurrahman
Wahid (Gus Dur), KH. Wahid Hasyim, KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Ihsan Jampes,
Syaikh Nawawi al-Bantani, dan banyak lagi nama-nama yang tentu tidak kita tahu.
Semuanya adalah orang-orang pesantren. Pada prinsipnya, beliau-beliaulah media
penyambung ilmu pengetahuan dan pemikiran ke-Islaman yang dapat kita
internalisasi sebagai bangunan epistemologis pengetahuan kita hari ini. Adapun
keberagaman bentuk karya, genre, bahasa, landasan epistemologi, konteks
historis, dan sebagainya, bukan alasan untuk tidak menulis; bahwa dengan
menulis kita ada.
Semacam Simpulan
Komunitas Matapena, sebagai komunitas literasi yang konsen
di bidang sastra, terutama novel, berusaha untuk menjadi bagian dari semangat
untuk menjaga tradisi ini. Upaya ini dilakukan dengan cara mendorong,
memediasi, dan mengobarkan semangat kepenulisan terutama di kalangan
santri-santri. Berangkat dari konsepsi ushuliah “Al-Muhafadlatu’ala
al-Qadiimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-jadiidi al-Ashlah”, lahirlah
penulis-penulis muda dari pesantren seperti Mahbub Djamaluddin, Sachree M.
Daroini, Zaki Zarung, Isma Kazee, Pijer Sri Laswiji, Khilma Anis, Ma'rifatun
Baroroh, Fina Af’idatussofa, Azri Zakiyyah, dan sederet nama lagi yang
karya-karyanya telah diterbitkan oleh komunitas Matapena.
Sebagai ikhtitam, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
pernah berpesan dalam sebuah esainya. “Jika suatu saat nanti akan lahir penulis-penulis dari pesantren, hendaknya ia
tahu dengan apa yang dia tulis.” (Gus Dur, Menggerakkan Tradisi; Esai-esai
Pesantren, [Yogyakarta: Januari 2010] LKiS, Cet.
III,).[]
Bersambung...
Rabbana infa’naa bi maa ‘allamtanaa # Rabbi ‘allimnaa alladzi
yanfa’unaa
Rabbi faqqihnaa wa faqqih ahlanaa # wa qaraabati lanaa fi diininaa
[1] Makalah ini disusun
sebagai perwujudan dan follow up diskusi antara saya (Muhammad Mahrus), Kang
Mahbub Djamaluddin, Kang Sachree M. Daroini, dan Kang Zaki Zarung ketika
Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) yang ke-10 di Rayon Komunitas Matapena
Balekambang Jepara, Juli 2013. Naskah ini juga pernah saya presentasikan di forum
kajian rutin Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta.
[2] Fasilitator, trainer, dan
penulis novel Mafia Three in One (Matapena: 2011); Unit Manager Matamoe-v
Production Matapena Community.
[3] Reformasi: Perubahan
secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama di suatu
masyarakat atau Negara (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
[4] Betrand Russlle, Hystory of Western Philosophy and its
Connections with Poilitical and Social Circumstances from the Earliest Times to
the Present Day, Terj. Sejarah
Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno
Hingga Sekarang, Pustaka Pelajar (Yogyakarta: 2007), Cetakan III, hlm. 161.
[5] Kebangkitan kembali;
waktu kebangkitan seni, sastra, dan pengetahuan di Eropa sejak abad ke-14
sampai abad ke-17 di Eropa. Era ini merupakan era peralihan dari abad
pertengahan ke abad modern. Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa abad
pertengahan atau abad kegelapan di Eropa adalah era dimana pengetahuan Islam
sedang berkembang pesat.
[6] Sainul Hermawan, Teori Sastra, dari Marxis ke Rasis: Sebuah
Buku Ajar, Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT),
(Banjarmasin, 2006), hlm. 7.
[7] Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Amzah (Jakarta:
2010), Cet. III, hlm. 144-146.
[8] Ibid., hlm. 148-152.
[9] Amroeni Drajat, Suhrawardi; Kritik Falsafah
Peripatetik, Yogyakarta, LKiS, April 2005, Cet. I, hlm.
[10] Selain sebagai seorang filsuf, al-Ghazali juga
dikenal sebagai pemikir Islam yang memperkenalkan konsep sufisme. Sufisme
dikenal pula sebagai aliran pemikiran dalam Islam yang “membantah” konsep
pemikiran peripatetisme.
[11] Tokoh filsuf muslim yang mengusung aliran
teosofi (iluminisme).
[12] Mulla Sadra, dengan nama lengkap Sadru al-Dien
asy-Syirazy, dikenal sebagai pemikir Islam dengan konsep Insan Kamil.
[13] H. Mahbub Djunaedi, kolumnis pertama di
Indonesia. Selain menjadi penulis kolom, Mahbub juga menulis novel berjudul
“Hari Demi Hari”. Masa remajanya diabdikan sebagai Aktivis Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia dan menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII selama tiga periode
(1960-1968).
[14] Lihat “Kolom Demi Kolom”. Sebuah
kumpulan pilihan esai H. Mahbub Djunaidi yang pernah diterbiitkan KOMPAS dan
TEMPO antara tahun 1970-1990.
[15] Selain pernah menjabat
sebagai salah satu sekretaris PBNU, beliau juga mantan mentri Agama
menggantikan KH. Wahid Hasyim. Beliau pula yang pertama kali mendirikan
PTAIN-PTAIN di Indonesia. Lihat di KH. Saifudin Zuhri, “Guruku Orang-orang
dari Pesantren”, Yogyakarta, LKiS, 2001, Cet. I.




0 komentar:
Posting Komentar
Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.