19.8.15

EPISTEMOLOGI SASTRA PESANTREN

EPISTEMOLOGI SASTRA PESANTREN;
Sebuah Kajian Awal[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Pada abad ke-16, telah terjadi sebuah gerakan keagamaan yang bertujuan untuk memperbarui Gereja Katolik di Eropa. Dari gerakan keagamaan tersebut, berdirilah Gereja Protestan di Roma. Rupanya, gerakan inilah yang kemudian menjadi penanda dari istilah reformasi.[3] Pergulatan ini juga menandai pertikaian antara dogma dengan sains secara umum sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 di Eropa. Dalam pertikaian tersebut, tentu saja kemenangan ada di pihak sains. Dari pertikaian ini pula, lahirlah sebuah cara pandang modern sebagai bentuk kebalikan dari cara pandang abad pertengahan yang bermula di daratan Italia.[4] Dalam sejarahnya, era ini kemudian dikenal dengan renaisans.[5]

Gerakan renaisans Italia ini kemudian diikuti oleh sebagian besar intelektual Italia saja. Sementara sebagian yang lain sebenarnya masih patuh pada cara pandang abad pertengahan. Ketidaksepemahaman inilah yang kemudian juga memicu pro-kontra seputar gerakan reformasi. Meskipun demikian, kita tidak akan membahas terlalu dalam persoalan renaisans Italia. Biarlah untuk sementara ini menjadi pengetahuan tentang sejarah ilmu pengetahuan di Eropa secara umum dan dimulainya era modern.
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa modernisme juga mengakibatkan pro-kontra seputar reformasi. Sementara reformasi sendiri tidak melulu pada wilayah ilmu pengetahuan dan agama semata.  Akan tetapi juga mencakup wilayah seni dan sastra. Pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, di belahan Negara Eropa yang lain juga mengalami kebangkitan sastra selain ilmu pengetahuan dan filsafat. Kita ambil contoh Negara Inggris dan Perancis. Di Inggris, pada abad ke-17 lahir karya-karya sastra fenomenal seperti karya-karya Shakesphere, Webster, Marvel, dan Milton. Pada saat yang sama, di Perancis lahir karya-karya besar Corneille dan Racine. [6]
Di belahan bumi yang lain, abad pertengahan di Eropa adalah penanda kebangkitan ilmu pengetahuan Islam di daratan Timur Tengah. Khususnya pada era kepemimpihan Khalifah Abbasiyah. Ketika itu Khalifah Al-Manshur dan dilanjutkan Khalifah Harun Al-Rasyid mulai memberikan dukungan kepada para intelektual muslim untuk menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani hingga dibangunlah sebuah monumen pengetahuan Islam dalam wujud perpustakaan (Baitul Hikmah). Kebijakan pembangunan peradaban ini dilanjutkan pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Makmun (putera Khalifah Harun Al-Rasyid).[7]
Merujuk pada sejarang gemilang Dinasti Abbasiyah yang berpusat di kota Baghdad pada waktu itu, gerakan penerjemahan secara besar-besaran memang dilakukan pada masa kepemimpinan tiga Khalifah Abbasiyah di atas. Bermula dengan penerjemahan karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq pada fase pertama. Di fase kedua, gerakan penerjemahan tersebut mulai masuk ke karya-karya filsafat dan kedokteran. Pada fase ketiga, setelah tahun 300 H, gerakan ini semakin meluas.
Secara umum, bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang di Baghdad terbagi menjadi dua kategori; bidang agama dan bidang umum. Bidang agama meliputi Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, dan Ilmu Bahasa. Di bidang umum meliputi Filsafat, Ilmu Kedokteran, Matematika, Farmasi, Ilmu Astronomi, Geografi, sejarah, dan Sastra. Dalam bidang umum yang terakhir inilah kita kemudian mengenal salah seorang penyair yang dikenal dengan nama Abu Nuwas. Selain itu juga ada satu karya sastra yang ditulis oleh An-Nasyasi dengan judul Seribu Satu Malam yang fenomenal. Judul asli dari karya sastra ini adalah Alfu Lailah wa Lailah (The Arabian Night) yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.[8]
Dalam perjalanan sejarahnya, kejayaan Dinasti Abbasiyah harus berakhir meskipun Islam pada waktu itu sudah berkembang pesat sampai di daratan Eropa. Spanyol adalah Negara yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan tersebut. Pengaruh ini antara lain terjadi akibat berdirinya universitas-universitas Islam di samping perkembangan politik dan ekonomi internasional. Sehingga terjadilah sebuah transmisi ilmu pengetahuan dari para intelektual muslim di Timur Tengah ke Eropa. Pengaruh ilmu pengetahuan yang terjadi pada abad ke-12 sampai abad ke-14 inilah yang rupanya membidani semangat gerakan renaisans di Eropa.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa semangat gerakan renaisans di Eropa inilah yang melahirkan era modernisme. Pada fase ini lahir ideologi-ideologi besar di dunia; kapitalisme, sosialisme, marxisme, dan seterunya. Sebagai sebuah bangunan epistemologi ilmu pengetahuan, tentu saja terjadi keterkaitan antara sebuah ideologi dengan produk-produk ilmu pengetahuan yang berkembang dan saling berkaitan. Termasuk cabang kesusateraan yang berkembang di era-era berikutnya.

Kilas Balik Tradisi Menulis di Dunia Pesantren
Sebagai sebuah tradisi, menulis sudah dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidun, terutama pada masa khalifah Utsman bin Affan, ra. Dimana sejarah ditulisnya Al-Qur’an pertama kali dilakukan secara komprehensif. Tradisi ini kemudian dikembangkan seiring perkembangan pemikiran Islam pada masa Bani Abasiyah. Dalam hal ini khalifah Abasiyah (Harun al-Rasyid) menunjukkan keseriusannya dengan memediasi tradisi tulis menulis ini dengan perpustakaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah Daulah Islam. Keseriusan ini kemudian dilanjutkan dengan kebijakan khalifah Al-Makmun dibantu para filsuf Islam periode awal seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan Al-Farabi.[9] Para pemikir Islam inilah yang kemudian menjadi pemantik para pemikir selanjutnya seperti Al-Ghazali,[10] Suhrawardi,[11] Mulla Sadra,[12] dan seterusnya. Sejak itu pula lahir para pemikir-pemikir Islam dengan tradisi tulis-menulisnya.
Dalam konteks Islam Indonesia, yang paling konsisten dalam menjaga warisan tradisi ini hanya kalangan pesantren. Meskipun, bukan berarti selain pesantren tidak ada lembaga pendidikan lain yang melakukan aktivitas tulis-menulis. Tetapi, sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantrenlah yang mampu menjaganya secara utuh. Dalam arti, ruang transformasi ilmu pengetahuan yang dimaksud di atas relatif lebih luas. Misalnya, fenomena seorang santri baru yang harus menghafal nadzam ‘Aqidatul Awam sebagai pelajaran pertama dalam mendalami ilmu tauhid (setingkat SD/MI). Sampai di sini, si santri baru secara tidak langsung sedang belajar (setidaknya) tiga ilmu: nahwu-sharraf, ‘arudh, dan murad-nya.

Aktivitas Menulis dan Karya Tulis
Dalam aktivitas ini, pada dasarnya seorang penulis sedang melakukan aktivitas berfikir. Dimana, tidak akan ada sesuatu yang akan tertuang dalam bentuk karya tulis ketika tidak ada buah pemikiran yang diproduksi sebelum atau ketika menulis. Sementara, dalam waktu yang sama, seorang penulis sedang melakukan sebuah pembacaan tentang produk pemikiran yang akan atau sedang ditulis. Oleh karena itu, menulis adalah akumulasi dari aktivitas berfikir dan membaca.
Produk pemikiran yang dimaksud tergantung pada karya tulis yang akan dibuat. Secara umum, karya tulis dibagi menjadi dua bentuk: fiksi dan non fiksi. Karya-karya yang tergolong sebagai karya tulis fiksi, secara umum disebut dengan karya sastra. Biasanya dikenal dengan istilah prosa, novel, novelet, cerpen, dan puisi. Sementara, karya yang berbentuk non fiksi, secara umum disebut dengan karya tulis ilmiah dan populer, termasuk di dalamnya antara lain seperti karya jurnalistik.
Pada perkembangannya bentuk-bentuk karya tulis ini mengalami proses akulturasi. Sehingga sering kita jumpai sebentuk karya sastra yang bercerita tentang sebuah kehidupan nyata. Begitu juga sebaliknya, ada di antara karya non fiksi yang ditulis dalam gaya sastra. Meskipun demikian, masing-masing masih tetap dalam nilai dan etikanya. Kolom-kolom H. Mahbub Djunaedi,[13] misalnya. Hampir dalam setiap kalimatnya, Mahbub mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal dan tanpa sadar sebenarnya si pembaca sedang diajak “keliling dunia”. Serta tidak jarang Mahbub sebenarnya mengajak para pembacanya “menangis” dan “marah” akan sebuah realitas sosial yang timpang.[14] Kesemuanya diramu dalam kolom-kolom yang ditulisnya sejak awal tahun ’70-an.
Contoh lain seperti KH. Saifudin Zuhri.[15] Sebagaimana H. Mahbub Djunaedi, beliau juga dikenal sebagai penulis dengan genre serupa. Karya-karyanya yang non fiksi ditulis hampir menyerupai sebuah cerita fiksi. Pembaca yang tidak tahu konteks karyanya, pasti mengira karyanya tak ubahnya semisal trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Dari bentuk karya cerpen dan puisi, kita bisa menilik karya-karya agung  KH. Mustofa Bisri, Acep Zamzam Noor, dan D. Zawawi Imron. Dengan karya-karyanya, para penulis sepuh tersebut mengajarkan pada kita bagaimana mencari ilmu, mengasahnya, serta mengamalkan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh.
Terlepas dari konteks wacana tersebut, sederet nama-nama penulis besar di atas adalah orang-orang pesantren yang senantiasa menjaga tradisi tulis-menulis. Belum lagi nama-nama besar lain seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Wahid Hasyim, KH. Hasyim Asy’ari, Syaikh Ihsan Jampes, Syaikh Nawawi al-Bantani, dan banyak lagi nama-nama yang tentu tidak kita tahu. Semuanya adalah orang-orang pesantren. Pada prinsipnya, beliau-beliaulah media penyambung ilmu pengetahuan dan pemikiran ke-Islaman yang dapat kita internalisasi sebagai bangunan epistemologis pengetahuan kita hari ini. Adapun keberagaman bentuk karya, genre, bahasa, landasan epistemologi, konteks historis, dan sebagainya, bukan alasan untuk tidak menulis; bahwa dengan menulis kita ada.

Semacam Simpulan
Komunitas Matapena, sebagai komunitas literasi yang konsen di bidang sastra, terutama novel, berusaha untuk menjadi bagian dari semangat untuk menjaga tradisi ini. Upaya ini dilakukan dengan cara mendorong, memediasi, dan mengobarkan semangat kepenulisan terutama di kalangan santri-santri. Berangkat dari konsepsi ushuliah “Al-Muhafadlatu’ala al-Qadiimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-jadiidi al-Ashlah”, lahirlah penulis-penulis muda dari pesantren seperti Mahbub Djamaluddin, Sachree M. Daroini, Zaki Zarung, Isma Kazee, Pijer Sri Laswiji, Khilma Anis, Ma'rifatun Baroroh, Fina Af’idatussofa, Azri Zakiyyah, dan sederet nama lagi yang karya-karyanya telah diterbitkan oleh komunitas Matapena.
Sebagai ikhtitam, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berpesan dalam sebuah esainya. “Jika suatu saat nanti akan lahir  penulis-penulis dari pesantren, hendaknya ia tahu dengan apa yang dia tulis.” (Gus Dur, Menggerakkan Tradisi; Esai-esai Pesantren, [Yogyakarta: Januari 2010] LKiS, Cet. III,).[]

Bersambung...
Rabbana infa’naa bi maa ‘allamtanaa # Rabbi ‘allimnaa alladzi yanfa’unaa
Rabbi faqqihnaa wa faqqih ahlanaa # wa qaraabati lanaa fi diininaa



[1] Makalah ini disusun sebagai perwujudan dan follow up diskusi antara saya (Muhammad Mahrus), Kang Mahbub Djamaluddin, Kang Sachree M. Daroini, dan Kang Zaki Zarung ketika Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) yang ke-10 di Rayon Komunitas Matapena Balekambang Jepara, Juli 2013. Naskah ini juga pernah saya presentasikan di forum kajian rutin Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta.
[2] Fasilitator, trainer, dan penulis novel Mafia Three in One (Matapena: 2011); Unit Manager Matamoe-v Production Matapena Community.
[3] Reformasi: Perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama di suatu masyarakat atau Negara (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
[4] Betrand Russlle, Hystory of Western Philosophy and its Connections with Poilitical and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day, Terj. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, Pustaka Pelajar (Yogyakarta: 2007), Cetakan III, hlm. 161.
[5] Kebangkitan kembali; waktu kebangkitan seni, sastra, dan pengetahuan di Eropa sejak abad ke-14 sampai abad ke-17 di Eropa. Era ini merupakan era peralihan dari abad pertengahan ke abad modern. Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa abad pertengahan atau abad kegelapan di Eropa adalah era dimana pengetahuan Islam sedang berkembang pesat.
[6] Sainul Hermawan, Teori Sastra, dari Marxis ke Rasis: Sebuah Buku Ajar, Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT), (Banjarmasin, 2006), hlm. 7.
[7] Amin, Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, Amzah (Jakarta: 2010), Cet. III, hlm. 144-146.
[8] Ibid., hlm. 148-152.
[9] Amroeni Drajat, Suhrawardi; Kritik Falsafah Peripatetik, Yogyakarta, LKiS, April 2005, Cet. I, hlm.
[10] Selain sebagai seorang filsuf, al-Ghazali juga dikenal sebagai pemikir Islam yang memperkenalkan konsep sufisme. Sufisme dikenal pula sebagai aliran pemikiran dalam Islam yang “membantah” konsep pemikiran peripatetisme.
[11] Tokoh filsuf muslim yang mengusung aliran teosofi (iluminisme).
[12] Mulla Sadra, dengan nama lengkap Sadru al-Dien asy-Syirazy, dikenal sebagai pemikir Islam dengan konsep Insan Kamil.
[13] H. Mahbub Djunaedi, kolumnis pertama di Indonesia. Selain menjadi penulis kolom, Mahbub juga menulis novel berjudul “Hari Demi Hari”. Masa remajanya diabdikan sebagai Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII selama tiga periode (1960-1968).
[14] Lihat “Kolom Demi Kolom”. Sebuah kumpulan pilihan esai H. Mahbub Djunaidi yang pernah diterbiitkan KOMPAS dan TEMPO antara tahun 1970-1990.
[15] Selain pernah menjabat sebagai salah satu sekretaris PBNU, beliau juga mantan mentri Agama menggantikan KH. Wahid Hasyim. Beliau pula yang pertama kali mendirikan PTAIN-PTAIN di Indonesia. Lihat di KH. Saifudin Zuhri, “Guruku Orang-orang dari Pesantren”, Yogyakarta, LKiS, 2001, Cet. I.

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.