13.9.14

PMII; SEJARAH, RUMAH, DAN MASA DEPAN



Disusun Oleh:
Tim Perumus Materi PKD PMII 
Rayon Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014

Historitas PMII
Sejarah masa lalu adalah cermin masa kini dan masa mendatang. Dokumen historis, merupakan instrumen penting untuk membaca diri. Tidak terkecuali PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Meski dokumen yang disajikan dalam tulisan ini terbilang kurang komplit, sosok organisasi mahasiswa tersebut sudah tergambar dengan jelas. Berikut pemikiran dan sikap-sikapnya.

18.7.14

SURAT KEDUA


Bukan hal yang sederhana menulis surat buatmu. Untuk sekedar istirahat, yang sekedar meluangkan waktu untuk pergi sejenak.
Surat ini kutulis setelah kusampaikan isinya padamu. Jadi kau tak perlu membacanya. Tapi silakan saja jika kau ingin. Untuk sekedar mengisi masa lalumu. Di antara surat-surat yang belum sempat kutulis untukmu. Ada harapan yang tidak sederhana dalam setiap surat yang belum kutulis itu. Namun, ada baiknya barangkali jika kau tak mengetahuinya. Setidaknya, hanya aku yang harus berdamai dengan surat-surat itu.

13.5.14

PAK UDIN

Oleh: Muhammad Mahrus
 
-Satu -

Jalanan di timur stadion kridosono masih tergenang air. Sebagian pengendara tampak hati-hati sekali. Sebagian yang lain, yang melaju dari arah barat, tampak kaget mendapati aspal yang terendam air bah itu. Tiap kali musim hujan tiba, dengan curah hujan rata-rata sekali pun jalanan Kotabaru ini memang acap kali tergenang dengan air bah. Tinggi air pun tidak sama. Kadang bisa mencapai tiga puluh centi. Ketinggian yang cukup melampaui trotoar jalan. Sore itu, di angkringan Kang Yono yang terletak di sudut timur Masjid At-Taqwa Kotabaru, di trotoar jalan, Pak Udin berteduh sambil menikmati teh panas. Beberapa orang juga tengah bersantai di sana. Kecuali Pak Udin, mereka adalah warga komplek Kompi Kotabaru. Seorang di antaranya  adalah Pak Wahib, seorang Korps Marinir Angkatan Darat.

12.5.14

UNTITLED

Oleh: Muhammad Mahrus

Satu
Kemarin, adalah hari raya ketigaku di Kota Apel. Di sebuah pesantren dan jauh dari orang tua. Aturannya, hari raya ini akan menjadi yang terakhir sebelum aku diperbolehkan berhari raya di rumah, bersama ibu, bapak, dan sanak kerabat. Tapi bukan itu yang menjadi pikiranku. Tiga tahun silam, adalah tahun yang begitu sulit buatku; bapak ibuku telah pulang untuk selamanya.

11.5.14

NAMAKU LONTAR


Oleh: Muhammad Mahrus
 
-Satu-

Di sebuah dusun sederhana, tanpa pipa PAM dan listrik bertenaga surya, tanpa banyak polusi udara, tanpa pabrik-pabrik dan mini perumahan, tanpa perempuan dengan rok mini; di samping mushalla tanpa jendela tempat anak-anak bermain sambil menunggu maghrib, aku tinggal dengan sejarah. Isteriku, kurasa sudah cukup bahagia walau masih harus berjalan kaki untuk sekedar mengantar makanan ke kaki-kaki gunung Semeru. Tidak jauh, memang. Tapi juga tidak begitu dekat dari Semeru. Isteriku, perempuan yang kupinang dari daerah pegunungan sekitar Sindoro itu, seakan tiada lainnya.