Oleh: Muhammad Mahrus
Satu
Kemarin,
adalah hari raya ketigaku di Kota Apel. Di sebuah pesantren dan jauh dari orang
tua. Aturannya, hari raya ini akan menjadi yang terakhir sebelum aku
diperbolehkan berhari raya di rumah, bersama ibu, bapak, dan sanak kerabat. Tapi
bukan itu yang menjadi pikiranku. Tiga tahun silam, adalah tahun yang begitu
sulit buatku; bapak ibuku telah pulang untuk selamanya.
Jujur
saja, kecuali ibuku, aku sendiri belum begitu mengenal siapa bapakku. Dulu, aku
hanya tau kalau dia akan berangkat dengan sepeda angin ke pasar sebelum aku
berangkat sekolah. Sebelum dzuhur, biasanya ia pulang sementara aku masih main
bola di tanean sebelah rumahnya Said, kawan kelasku. Dan ketika aku
pulang di waktu bedug dzuhur bertalu, bapak biasanya sudah ada di mushalla Te
Taslim. Sementara aku akan segera berangkat ke Madrasah sampai sekitar pukul
empat sore. Di jam-jam segitu bapak biasanya sudah ada di rumah. Dan akan
berjalan begitu saja kecuali hari Jum’at dan Minggu.
Jum’at
pagi, aku tetap berangkat ke sekolah, tapi madrasah akan libur. Dan sebaliknya
di hari minggu. Satu hal lagi dalam jadwalku belajar di luar rumah, yaitu malam
hari. Sebelum maghrib, aku harus berangkat ke mushalla Kiai Ali untuk belajar
ngaji. Said, kawan kelasku di sekolah dasar, akan datang ke rumahku dulu
sebelum berangkat ngaji pada Kiai Ali. Tentu saja dia sering datang lebih awal.
Karena Said tidak ikut madrasah di sore hari. Seringkali kami berangkat lebih
cepat untuk sekedar penalti-an di depan mushalla sebelum bedug maghrib bertalu
dan secara bergantian, aku, Said, dan beberapa kawanku yang lain akan
mengumandangkan adzan.
Silakan
dibayangkan betapa padatnya jam belajarku. Tapi nyatanya aku lebih pandai
menendang bola-bola mati ketimbang setoran hafalan nadzam imrithy dan tashrif
di madrasah. Selain itu aku juga agak jago ketika balap renang di bantaran
sungai Pinyuh dari pada menyelesaikan soal-soal bilangan prima dan mengingat
nama-nama menteri kabinetnya Pak Harto. Dan ketika lebaran tiba, aku, Said, dan
Qosim akan keliling kampung sendiri. Silaturrahim ke sanak dan tetangga. Setidaknya
untuk wisata kuliner dan mengumpulkan pundi-pundi.
to be continued...




0 komentar:
Posting Komentar
Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.