12.5.14

UNTITLED

Oleh: Muhammad Mahrus

Satu
Kemarin, adalah hari raya ketigaku di Kota Apel. Di sebuah pesantren dan jauh dari orang tua. Aturannya, hari raya ini akan menjadi yang terakhir sebelum aku diperbolehkan berhari raya di rumah, bersama ibu, bapak, dan sanak kerabat. Tapi bukan itu yang menjadi pikiranku. Tiga tahun silam, adalah tahun yang begitu sulit buatku; bapak ibuku telah pulang untuk selamanya.

Jujur saja, kecuali ibuku, aku sendiri belum begitu mengenal siapa bapakku. Dulu, aku hanya tau kalau dia akan berangkat dengan sepeda angin ke pasar sebelum aku berangkat sekolah. Sebelum dzuhur, biasanya ia pulang sementara aku masih main bola di tanean sebelah rumahnya Said, kawan kelasku. Dan ketika aku pulang di waktu bedug dzuhur bertalu, bapak biasanya sudah ada di mushalla Te Taslim. Sementara aku akan segera berangkat ke Madrasah sampai sekitar pukul empat sore. Di jam-jam segitu bapak biasanya sudah ada di rumah. Dan akan berjalan begitu saja kecuali hari Jum’at dan Minggu.
Jum’at pagi, aku tetap berangkat ke sekolah, tapi madrasah akan libur. Dan sebaliknya di hari minggu. Satu hal lagi dalam jadwalku belajar di luar rumah, yaitu malam hari. Sebelum maghrib, aku harus berangkat ke mushalla Kiai Ali untuk belajar ngaji. Said, kawan kelasku di sekolah dasar, akan datang ke rumahku dulu sebelum berangkat ngaji pada Kiai Ali. Tentu saja dia sering datang lebih awal. Karena Said tidak ikut madrasah di sore hari. Seringkali kami berangkat lebih cepat untuk sekedar penalti-an di depan mushalla sebelum bedug maghrib bertalu dan secara bergantian, aku, Said, dan beberapa kawanku yang lain akan mengumandangkan adzan.
Silakan dibayangkan betapa padatnya jam belajarku. Tapi nyatanya aku lebih pandai menendang bola-bola mati ketimbang setoran hafalan nadzam imrithy dan tashrif di madrasah. Selain itu aku juga agak jago ketika balap renang di bantaran sungai Pinyuh dari pada menyelesaikan soal-soal bilangan prima dan mengingat nama-nama menteri kabinetnya Pak Harto. Dan ketika lebaran tiba, aku, Said, dan Qosim akan keliling kampung sendiri. Silaturrahim ke sanak dan tetangga. Setidaknya untuk wisata kuliner dan mengumpulkan pundi-pundi.
 to be continued...

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.