24.10.18

ISLAM DAN WAJAH YANG (RENTAN) TERTUKAR; Sebuah Wacana Pengantar


ISLAM DAN WAJAH YANG (RENTAN) TERTUKAR;
Sebuah Wacana Pengantar[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Membaca gerakan Islam secara utuh, tentu saja membutuhkan energi yang tidak sedikit. Mengingat, Islam sudah ada di penghujung pertengahan millennium yang kedua. Sementara, perkembangan gerakan Islam sendiri selalu berjalan dinamis dan niscaya. Ke arah mana? Tentu saja ke arah penghujung sejarah. Baik buruknya perubahan ini, akan terjadi sebagaimana keniscayaan itu sendiri.
Rasulullah Saw., telah menunaikan tugasnya sebagai manusia, Nabi, sekaligus Utusan Allah SWT. Melalui riwayat-riwayat dan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kita telah belajar banyak hal sehingga kita dapat pula menunaikan tugas kemanusiaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Hanya saja, yang harus kita sadari, bahwa kita hidup di zaman yang cukup jauh dari Rasulullah Saw. Baik dari aspek sejarah, struktur sosial, dan struktur kebudayaan yang terpisah secara teritorial. Di sisi lain, kita juga harus bersyukur karena kita masih bisa menjadi bagian dari ummatnya yang terpilih dengan bimbingan dan arahan dari para pendahulu kita yang saleh.

Hal ini juga menunjukkan betapa aspek kesejarahan kita memerlukan kesinambungan jalur yang jelas agar kita tau di mana posisi keislaman kita hari ini. Sehingga kita tidak mudah terpukau dengan berbagai model (wajah) Islam hari ini. Bahwa, kita lahir secara personalitas, tidak dengan identitas apapun. Karenanya, kita membutuhkan identitas (keagamaan dan keislaman) yang pasti. Agar kelak (di akhirat) kita tau kepada siapa kita harus “gandolan” untuk menggapai syafaat Rasulullah Saw.

Aliran-Aliran Islam
Munculnya berbagai macam aliran dan wajah dalam Islam hari ini, tidak lepas dari aspek sejarah gerakan Islam sejak awal abad pertama Hijriah. Terutama masa sepeninggal Rasulullah Saw., bermula dari perdebatan tentang siapa yang pantas menggantikan Rasulullah Saw. Bibit-bibit perpecahan mulai tumbuh dari konsep Imamah dan khilafah pada masa Khulafaur Rasyidun. Perpecahan ini ditandai dengan peristiwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. kontra Sayyidina Utsman bin Affan ra.[3]
Golongan Syi’ah (para pendukung Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.) menyatakan bahwa yang berhak menggantikan kepemimpinan Rasulullah Saw., adalah Sayyidina Ali sendiri berikut keturunan-keturunannya. Sedangkan golongan Mu’tazilah dan Khawarij berpendapat bahwa siapapun dapat menjadi pengganti Rasulullah Saw. asalkan ia adalah orang terbaik serta memiliki kecakapan, meskipun ia adalah seorang budak belian dan bukan dari keturunan Arab (Quraisy). Sementara mayoritas kaum muslimin pada waktu itu, lebih menghendaki pemimpin pengganti Rasulullah Saw. adalah dari kaum Quraisy yang paling cakap.
Perselisihan ini semakin panas setelah peristiwa pembunuhan Sayyidina Utsman ra. pada 655 M. dari perdebatan konsep “Imamah” yang politis ditambah dengan kasus “dosa besar” yang sudah masuk ke aspek teologis. Pada tahap ini, perdebatan kemudian ditarik pada masalah “iman.” Secara umum, menurut A. Hanafi, konsep imamah dan dosa besar lebih tepat jika dimasukkan dalam ilmu fiqh.[4] Bukan teologi atau politik. Akan tetapi, sepertinya perselisihan tersebut cenderung mendorong politisasi wacana-wacana fiqh dan teologi. Sehingga, wajar jika perbedaan pendapat tersebut segera beranjak menjadi pertentangan fisik bahkan menjadi pertempuran yang akhirnya merugikan kekuatan politik Islam itu sendiri.
Pendapat konvensional menyatakan bahwa kelompok aliran-aliran dalam Islam yang muncul sejak pertengahan abad pertama sampai akhir abad kesepuluh hijriah tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori aliran. Politik, Teologi Islam, dan Hukum Islam. Dalam perkembangannya, ketiga kategori aliran tersebut mencatat setidaknya terdapat 11 kelompok aliran yang lahir dan kemudian berkembang. Dimana secara keseluruhan, setiap kelompok aliran tersebut masing-masing menyatakan pendapatnya atas satu atau keseluruhan daripada 4 tema berikut:
1.      Sifat-sifat Allah SWT. dan peng-“Esa”-annya
2.      Qadar dan Keadilan Allah SWT
3.      Janji dan Ancaman
4.      Sama’ dan Akal Keutusan Nabi Saw. dan Imamah (khilafah)

Berdasarkan uraian di atas, 11 kelompok aliran tersebut dapat disimak dalam table berikut:[5]
No
Aliran
Tema
Sifat-sifat Allah SWT. dan peng-“Esa”-annya
Qadar dan Keadilan Allah SWT
Janji dan Ancaman
Sama’ dan Akal Keutusan Nabi Saw. dan Imamah (khilafah)
1
Syi’ah



2
Mu’tazilah

3
Khawarij



4
Asy-‘Ariyyah
5
Jabariyyah



6
Qadariyyah



7
Murji’ah



8
Mujassimah



9
Karramiah
10
Wa’idiyyah



11
Nijariyyah




Dalam skema yang lebih luas, sebenarnya kelompok aliran-aliran yang lahir dan berkembang bahkan sampai hari ini, setidaknya mencakup tiga aspek utama. Pertama, aspek intelektual yang mencakup disiplin-disiplin ilmu pengetahuan seperti Ilmu Kalam (Teologi), Hukum Islam (Fikih), Filsafat, Tasawwuf, dan lain-lain. Kedua, aspek kebudayaan yang mencakup nilai-nilai tradisi, literasi, sastra dan berbagai wujud kebudayaan lainnya. Ketiga, aspek politik dimana dari aspek inilah banyak melahirkan pertikaian dan konflik horizontal di kalangan umat Islam sendiri. Di sisi lain, acap kali terjadi politisasi aspek intelektual dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan aspek kebudayaan demi menopang kepentingan politik.
Dari setiap corak pemikiran yang berbeda antar setiap kelompok aliran, sebenarnya memiliki pola persamaan dalam hal tujuannya. Yakni, mempertahankan kepercayaan umat dan memantabkannya. Hanya saja, sebagaimana fakta sejarah yang ada, persamaan tujuan ini mewariskan pertentangan yang dinamis. Jika diperhatikan secara detil, maka akan tampak corak pemikiran sebuah kelompok aliran-aliran tersebut dalam gelombang perkembangan aliran-aliran Islam di masa kini.
Merujuk pada teori siklus, Islam juga pernah menikmati masa-masa kejayaannya dengan wilayah kekuasaan sampai ke daratan Spanyol di masa kepemimpinan Daulah Abbasiyah. Tidak hanya secara politik, secara intelektual dan kebudayaan Islam juga banyak melahirkan pemikir-pemikir handal yang kemudian mewariskan tradisi, literasi, dan berbagai macam aspek kebudayaan lainnya. Tentu saja, melaui dinamika yang panjang Islam hari ini juga masih menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di tengah pertempuran ideologi-ideologi internasional.
Sebelum menyentuh perkembangan gerakan Islam lebih jauh, ada baiknya kita lihat beberapa kelompok aliran yang berkembang sampai akhir abad kesepuluh hijriah. Setidaknya kita akan melihat 4 kelompok aliran dengan pengaruh yang cukup kuat sehingga corak pemikiran dan gerakannya diadopsi oleh aliran-aliran Islam dengan wajah baru.

1.      Mu’tazilah
Mu’tazilah dikenal sebagai kelompok aliran paling tua di antara alira-aliran lain. Mengingat aliran ini memang lahir pada abad pertama hijriah. Di samping itu, banyak tokoh-tokoh aliran lain yang sebelumnya merupakan para pemikir dan pendukung aliran ini. Sementara, tokoh aliran ini sendiri adalah Wasil bin Atho’ (80-131 H/699-748 M), yang sebelumnya merupakan salah satu murid dari Syaikh Hasan Basri (642-728 M). sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, Mu’tazilah lahir dari persoalan-persoalan agama khususnya masalah dosa besar dan iman selain persoalan imamah.
Adapun pokok-pokok pemikiran aliran ini tersusun dalam 5 konsep yang fenomenal:
a.      Ke-Esa-an Allah SWT (al-Tauhid)
b.      Keadilan (al-‘Adl)
c.       Janji dan Ancaman (al-Wa’du wa al-Wa’id)
d.      Tempat di antara dua tempat (al-Manzilah baina Manzilatain)
e.      Amar Ma’ruf Nahi Munkar (al-Amru bi al-Ma’ruf wa al-Nahyu ‘an al-Munkar)
Tokoh-tokoh Mu’tazilah:
a.      Wasil bin Atho’, pendiri (80-131 H/699-748 M)
b.      Al-‘Allaf (135-226 H/752-840 M)
c.       An-Nazzham (w. 231 H/845 M)
d.      Abu Ali Al-Jubba’i (w. 303 H/915 M)
e.      Bisjr bin Al-Mu’tamir (w.226 H/840 M)
f.        Al-Chayyat (w. 300 H/912 M)
g.      Al-Qadhi Abdul Jabbar (w. 1024 M)
h.      Az-Zamainsyari (467-538 H/1075-1144 M)

2.      Asy’ariyyah
Pendiri aliran ini adalah Abu Hasan Ali bin Isma’il Al-Asy’ari 260-324 H/873-935 M). lahir di kota Basrah (Irak) dan merupakan keturunan dari Abu Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat yang kemudian menjadi mediator perselisihan antara Sayyidina Ali ra. dengan Mu’awiyah. Abu Hasan Al-Asy’ari tumbuh dan berkembang pemikirannya di tengah-tengah lingkungan Mu’tazilah dan merupakan salah satu murid dari Abu Ali Al-Jubba’i, sehingga ia juga sempat menjadi pemikir dan pendorong gagasan-gagasan Mu’tazilah. Kemudian ketika usia beliau memasuki 40 tahun, diceritakan bahwa beliau telah menyatakan keluar dari Mu’tazilah.
Adapun nama-nama besar yang menjadi pemikir Asy’ariyyah, antara lain:
a.      Al-Baqillani (w. 403 H)
b.      Ibnu Faurak (w. 406 H)
c.       Ibnu Ishak Al-Isfaraini (w. 418 H)
d.      Abdul Kahir Al-Baghdadi (w. 429 H)
e.      Imam Al-Haramain Al-Juwaini (w. 478 H)
f.        Abdul Mudzaffar Al- Isfaraini (w. 478 H)
g.      Al-Ghazali (w. 505 H)
h.      Ibnu Tumart (w. 524 H)
i.        As-Syahristani (w. 548 H)
j.        Ar-Razi (1149-1209 M)
k.      Al-Iji (w. 756 H/1359
l.        As-Sanusi (w. 895 H)
Selain daripada karya-karya Imam Al-Asy’ari sendiri, kita juga dapat mengetahui corak pemikiran dan pendapatnya dari para pengikutnya di atas. Dimana untuk setiap tema perdebatan, aliran ini cenderung bersifat moderat tanpa melemahkan nas-nas dari Al-Quran dan Al-Hadits dengan menggunakan kemampuan akal sebagai penunjang untuk argumentasi-argumentasi. Tidak sebagaimana Mu’tazilah yang cenderung menggunakan akal untuk menghakimi nas-nas tersebut.

3.      Maturidiyah
Pendiri aliran ini adalah Imam Abu Mansur Muhammad bin Muhammad, lahir di sebuah kota kecil Samarkand bernama Maturid, Uzbekistan, pada pertengahan abad ketiga hijriah dan wafat di kota kelahirannya pada 333 H. Aliran yang hanya berkembang di Negara kelahirannya sendiri ini memang tidak banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Akan tetapi memeliki peranan yang sama dengan aliran Asy’ariyyah dalam membendung aliran Mu’tazilah. Dalam bidang aqidah, Imam Abu Masur cenderung mengedepankan pemikiran Imam Abu Hanifah yang belakangan lebih dikenal sebagai Ahli Fikih. Beberapa nama yang dapat disebutkan sebagai pengikut aliran ini antara lain Fachruddin Al-Bazdawi, At-Taftazan, An-Nasafi, dan Ibnul Hammam.[6]
Sementara, intik pokok pemikiran Al-Maturidi antara lain:
a.      Kewajiban Mengetahui Tuhan
b.      Kebaikan dan Keburukan Menurut Akal
c.       Hikmah dan Tujuan Perbuatan Tuhan

4.      Salaf
Selama dinamika pemikiran sejarah Islam berlangsung, aliran ini tidak pernah memunculkan siapa pendirinya dan sejak kapan aliran ini lahir. Hanya saja, aliran ini tiba-tiba muncul dengan teori dari gerakan orang-orang Hanabillah (para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal) pada abad keempat hijriyah. Satu tokoh yang paling berpengaruh dalam aliran ini, hanya menyisakan Ibnu Taimiyah (661-728 H). dan lima ratusan tahun kemudian, aliran ini hidup kembali dari sebuah desa kecil di Saudi Arabia tempat Ibnu Sa’ud dilahirkan dan kemudian mendirikan dinasti baru Arab Saudi dengan pendiri aliran Wahabiah, Muhammad bin Abdul Wahhab.
Secara metodologis, aliran salaf tidak mengakui penggunaan akal untuk memahami nas. Karena akal sama sekali tidak memiliki otoritas untuk itu. Jadi, untuk memahami aqidah dan argumentasi pendukungnya, juga harus menggunakan nas dari Al-Quran dan Hadits Nabi sebagai penjelasannya. Menurut kelompok ini, corak pemikiran salaf justru menunjukkan batas kemampuan dan daya jangkau rasio terhadap hal-hal gaib dan metafisik, yang jika dilanggar, maka akan sesat.
Uniknya, aliran ini juga mampu berkembang ke wilayah-wilayah luar Saudi Arabia, seperti India, Al-Jazair, Mesir, Sudan, dan bahkan Indonesia.

Gerakan Ahlussunnah wal Jama’ah
Dari berbagai macam aliran di atas, umumnya mengafiliasikan diri pada ahlussunnah. Termasuk aliran yang tersebut paling akhir, salaf dan wahabi. Akan tetapi, satu-satunya aliran yang secara jelas menyusun konsepsi ahlussunnah wal jama’ah adalah aliran Asy’ariyyah. Selain dari karya Imam Al-Asy’ari sendiri (al-Luma’ dan al-Ibanah), konsepsi ini juga jamak dijumpai dalam karya-karya Al-Juwaini, Al-Isfaraini, dan Al-Ghazali. Selebihnya, gerakan ini justru berkembang pesat dan lebih banyak diterima kaum Muslimin daripada gerakan-gerakan dari kelompok aliran lain.
Pertentangan dalam gerakan ini juga dapat dilihat sampai hari ini, bahkan di Indonesia. Kubu Salaf dan Wahabi juga menyatakan diri sebagai kelompok ahlussunnah tanpa penyebutan wal jama’ah. Sedangkan penerus dan pengikut Asy’ariyyah, bahkan menjadikan konsep ahlussunnah wal jama’ah sebagai konsep yang utuh. Dan dari titik ini pula bentuk gerakan-gerakan Islam besar lahir.
Baik dari kelompok aliran Asy’ariyyah maupun Salaf-Wahabi, gerakan ahlussunnah ini menyebar dan berkembang ke Indonesia. Aliran Salaf-Wahabi pertama kali dibawa ke Indonesia oleh 3 orang yang pergi menunaikan ibadah haji pada 1803 M. Pada perlawatannya ke Madinah, mereka tertarik dengan gerakan Wahabi yang berkembang di Arab Saudi dan kemudian membawa pulang ajaran-ajarannya sehingga membidani Perang Padri. Selebihnya, ajaran ini bertambah pesat dengan sentuhan pemikiran Muhammad Abduh dari Mesir
Di sisi lain, gerakan ahlussunnah wal jama’ah yang berafiliasi dengan Asy’ariyyah dibawa pulang oleh Ulama-ulama’ khos dan masyayikh Nusantara seperti Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Yusuf Makassar, Syaikh Ihsan Jampes, dan Syaikh Hasyim Asy’arie, pendiri Nahdlatul Ulama. Dan melalui para ulama’ inilah gerakan ahlussunnah wal jama’ah menjaga keutuhan bangsa dan Negara.[]
Wallahu a’lam


Tirtoyudo, 1 Mei 2017


[1] Disampaikan dalam acara PKD PMII RR Kab. Malang, pada May Day 2017, di MTs Hasanuddin Sumberpucung Kab. Malang.
[2] Direktur Penerbit Kirisufi, aktif di LAKPESDAM PCNU Kab. Malang.
[3] A. Hanafi, M.A., Pengantar Teologi Islam, Pustaka Al-Husna, Jakarta: 2003, hal. 13.
[4] Ibid., hal. 14.
[5] Disarikan dari berbagai sumber.
[6] Sebagaimana disitir A. Hanafi dari Dhuhrul Islam IV : 95

0 komentar:

Posting Komentar

Setiap naskah terbuka untuk kritik dan komentar. Mari membangun iklim ilmiah dan tradisi berfikir bijaksana.