25.12.12

KEBUDAYAAN ISLAM DALAM PANGGUNG INDONESIA

Oleh: Muhammad Mahrus*

Dalam studi tentang kebudayaan lokal, yang menginventarisir kebudayaan-kebudayaan yang ada sejak zaman pra Islam hingga saat ini, masih terdapat persamaan nilai-nilai yang masih melekat pada sebagian masyarakat. Meskipun di sisi lain, terdapat pula golongan-golongan yang benar-benar menolak dengan keras terhadap kelompok-kelompok yang mempercayai adanya statemen-statemen tersebut. Dengan adanya nilai-nilai yang masih terbawa pada masyarakat (modern) ini, artikulasi terhadap kebudayaan yang berbasis Islam pun pada akhirnya mencitrakan Islam sebagai apologi dan legitimasi bahwa Islam adalah salah satu kebudayaan Indonesia; menjadi bagian dari elemen-elemen yang membentuk peradaban Indonesia.

23.12.12

MENCOBA MENGENALI INDONESIA

Oleh: Muhammad Mahrus
            
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang spesifik dibalik keindahan pulau-pulau serta flora dan faunanya. Bangsa ini memiliki begitu banyak keberagaman atau lebih dikenal dengan kebhinekaan. Mulai dari bahasa daerah, adat-istiadat, agama kepercayaan, suku, dan lain sebagainya.
Dari terminologi ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara bentuk pemerintahan yang sentralistis dalam arti yang sebenarnya. Dalam falsafah Pancasila, “Persatuan Indonesia” adalah bentuk keinginan untuk melaksanakan sistem pemerintahan yang sentralistis, sedangkan sila “Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”

POST-SPIRITUALISME; AYAM ATAU TELORNYA?

Muhammad Mahrus*

Semacam Abstraksi
Ketika seseorang memberhentikan akalnya, kemudian membiarkan segala sesuatu menjadi realitas di luar akalnya, di situlah jiwa mulai bermain. Jiwa, di sini dimaksudkan sebagai perwujudan bagian dari sisi kemanusiaan yang intuitif. Bagian inilah yang menjadi benteng terakhir bagi sifat kemanusiaan seseorang. Oleh karenanya jiwa menjadi bagian yang sangat penting, terutama ketika akal sudah tidak mampu lagi menghadapi realitas.
Nuansa yang dihasilkan oleh akal terkadang bertentangan dengan jiwa. Begitu juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan betapa juga terkadang antara akal dan jiwa tidak dapat berjalan dalam satu jalur. Akan tetapi karena sifatnya tidak mutlak akal masih bisa mensinergikan realitas seperti yang dikehendaki oleh jiwa.

22.12.12

AKU MENULIS MAKA AKU ADA

Aku Menulis Maka Aku Ada[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Semacam Abstraksi
Tradisi menulis di dunia Islam sebenarnya sudah dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidun, terutama pada masa khalifah Utsman bin Affan, ra. Dimana sejarah ditulisnya Al-Qur’an pertama kali dilakukan secara komprehensif. Tradisi ini kemudian dikembangkan seiring perkembangan pemikiran Islam pada masa Bani Abasiyah. Dalam hal ini khalifah Abasiyah (Harun al-Rasyid) menunjukkan keseriusannya dengan memediasi tradisi tulis menulis ini dengan perpustakaan terbesar yang pernah ada dalam sejarah Daulah Islam. Keseriusan ini kemudian dilanjutkan dengan kebijakan khalifah Al-Makmun dibantu para filsuf Islam periode awal seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, dan Al-Farabi.[3] Para pemikir Islam inilah yang kemudian menjadi pemantik para pemikir selanjutnya seperti Al-Ghazali,[4] Suhrawardi,[5] Mulla Sadra,[6] dan seterusnya.

20.12.12

ANALISA DIRI

Oleh: Muhammad Mahrus

Abstraksi
Diskursus tentang Analisa Diri (Andir), biasanya bermula dengan mempertanyakan identitas seseorang (manusia) kaitannya dengan Alam, Tuhan, dan sesamanya di dunia. Kemudian, pada arah mana sekiranya orientasi yang mesti dipilih dalam menjalani kehidupannya sebagai manifestasi hidup yang sesungguhnya. Karenanya, pembahasan mengenai Andir ini setidaknya akan dibatasi dalam dua kebutuhan dasar untuk mengenali dan menentukan arah hidup dengan sebenar-banarnya hidup.
Adanya teori bahwa kebenaran itu relative (Jurgen Habermas) barangkali akan sekilas saja akan mewarnai diskursus ini. Atau bahkan dalam setiap dikursus. Tetapi, dalam tema ini sebisa mungkin akan dipetakan secara intersubyektif dengan melihat pandangan para tokoh mengenai konsep tata hidup manusia sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Mengingat, kebutuhan kita sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara sekarang ini terlihat semakin rentan untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.

PESANTREN DAN POP CULTURE


PESANTREN DAN POP CULTURE[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Abstraksi
Diskursus tentang pesantren memang selalu menarik untuk dibahas. Terutama ketika pesantren dikaitkan dengan tema-tema tertentu yang seakan tidak ada sangkut pautnya dengan pesantren itu sendiri. Akan tetapi, begitulah pesantren. Sederhana dalam kompleksitas pergulatannya dengan sejarah perjalanan dunia. Karena pesantren sebagai subkultur. Meskipun istilah ini masih dalam upaya pengenalan identitas kultural oleh kalangan dari luar terhadap persantren.[3]
Untuk membaca pesantren, setidaknya terdapat tiga tipologi. Pertama, pesantren salaf/tradisional. Model pesantren ini merupakan model pesantren asli dalam arti metode dan cara pengajarannya masih seperti model pesantren awal. Berdiri atas dasar kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas intelektual Kyai lalu dibangunlah pondokan-pondokan permanen sebagai tempat tinggal para santri. Cara mengajarnya juga khas dengan metode bandongan, wekton, dan sorogan. Dan sampai hari ini masih banyak pesantren yang menggunakan tipologi tersebut.