Bilamana rindu ini dapat berkisah, mungkin ia akan menceritakan tentang keindahan-keindahan. Seumpama gerimis yang mengabarkan hujan. Seamsal malam pada sebuah purnama.
7.5.17
21.11.15
INDONESIA DALAM PIGURA
INDONESIA DALAM PIGURA
Oleh: Muhammad Mahrus*
Gagasan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik acapkali diwarnai dengan perdebatan dan pertentangan serius antar kelompok dan golongan. Masing-masing mengunggulkan kelompoknya dan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Hingga tidak jarang gerakan-gerakan tersebut memicu pertumpahan darah dan air mata. Uniknya, dalam diskursus akademik dan kaca mata media, pakta tersebut justru menjadi hal yang seksi.
Secara umum, kita akan mendapati konsep-konsep dan gagasan lama. Sehingga kecil kemungkinan lahirnya gagasan-gagasan yang benar-benar baru dan utuh sebagaimana gagasan-gagasan lama itu lahir. Meminjam tipologi di dalam buku ini—baik dari golongan nasionalis, agama (Islam), dan komunis—ketiganya cenderung mengidealkan konsep-konsep kenegaraan (lama) dimana konsep itu pernah menjadi ideologi-ideologi besar di dunia.
Oleh: Muhammad Mahrus*
Gagasan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik acapkali diwarnai dengan perdebatan dan pertentangan serius antar kelompok dan golongan. Masing-masing mengunggulkan kelompoknya dan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Hingga tidak jarang gerakan-gerakan tersebut memicu pertumpahan darah dan air mata. Uniknya, dalam diskursus akademik dan kaca mata media, pakta tersebut justru menjadi hal yang seksi.
Secara umum, kita akan mendapati konsep-konsep dan gagasan lama. Sehingga kecil kemungkinan lahirnya gagasan-gagasan yang benar-benar baru dan utuh sebagaimana gagasan-gagasan lama itu lahir. Meminjam tipologi di dalam buku ini—baik dari golongan nasionalis, agama (Islam), dan komunis—ketiganya cenderung mengidealkan konsep-konsep kenegaraan (lama) dimana konsep itu pernah menjadi ideologi-ideologi besar di dunia.
20.8.15
RINDU SANG DARWISH PENGEMBARA
Pidato
kebudayaan KH. Husein Muhammad:
RINDU SANG
DARWISH PENGEMBARA*
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى مَلَاءَ قُلُوبَ
أَوْلِيَآئِهِ بِمَحَبَّتِهِ. وَاخْتصَّ أَرْوَاحَهُمْ بِشُهُودِ عَظَمَتِهِ,
وَهَيَّأَ أَسْرَارَهُمْ لِحَمْلِ أَعْبَآءِ مَعْرِفَتِهِ. فَقُلُوبُهُمْ فِى
رَوْضَاتِ جَنَّاتِ مَعْرِفَتِه يُحْبَرُونَ. وَأَرْوَاحُهُمْ فِى مَلَكُوتِهِ
يَتَنَزَّهُونَ. فَاسْتَخْرَجَتْ أَفْكَاُرهُمْ يَوَاقِيتَ الْعُلُومِ. وَنَطَقَتْ
أَلْسِنَتُهُمْ بِجَوَاهِرِ الْحِكَمِ وَنَتَائِج الْفُهُومِ. فَسُبْحَانَ مَنِ
اصْطَفَاهُمْ لِحَضْرَتِهِ, وَاخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ. فَهُمْ بَيْنَ سَالِكٍ
وَمَجْذُوبٍ , وَمُحِبٍّ وَمَحْبُوبٍ. أَفْنَاهُمْ فِى مَحَبَّةِ ذَاتِه. وَصَلَّى
اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحَابَتِه.
كَيْفَ اَنْتَ تَحْتَ أَطْبَاقِ الثَّرَى يَا شَوْقِى ؟
وَكَيْفَ
أَنْتَ فِى مَرْقَدِكَ يَا حَنِينِى؟
إِذَا غِبْتَ عَنِّى
فَشَمَائِلُكَ مَلَآ رُوحِى .
وَإِذَا نَأَيْتَ
عَنْ بَصَرِى
فَأَنْتَ أَمَامَ
عَيْنِ بَصِيرَتِى.
وَلَئِنْ رَحَلْتَ
فَرُوحُكَ فِى
نَفْسِى مُقِيمٌ "
Duhai
rinduku
Bagaimana
keadaanmu di bawah tumpukan lempung
basah ini?
Bagaimana
engkau di tempat istirahmu, duhai kangenku
Bilamanapun
aku tak lagi bisa memandang wajahmu,
Seluruh
keindahanmu memenuhi ruhku
Bilapun engkau telah jauh dari tatapan
mataku
Aku
melihatmu dengan mata jiwaku
Dan
meski engkau telah pergi jauh
Ruhmu
ada dalam palung jiwaku.
Label:
ESAI
19.8.15
EPISTEMOLOGI SASTRA PESANTREN
EPISTEMOLOGI
SASTRA PESANTREN;
Oleh: Muhammad Mahrus[2]
Abstraksi
Pada abad ke-16, telah terjadi sebuah gerakan keagamaan
yang bertujuan untuk memperbarui Gereja Katolik di Eropa. Dari gerakan
keagamaan tersebut, berdirilah Gereja Protestan di Roma. Rupanya, gerakan
inilah yang kemudian menjadi penanda dari istilah reformasi.[3]
Pergulatan ini juga menandai pertikaian antara dogma dengan sains secara umum sejak
abad ke-14 sampai abad ke-17 di Eropa. Dalam pertikaian tersebut, tentu saja kemenangan
ada di pihak sains. Dari pertikaian ini pula, lahirlah sebuah cara pandang
modern sebagai bentuk kebalikan dari cara pandang abad pertengahan yang bermula
di daratan Italia.[4]
Dalam sejarahnya, era ini kemudian dikenal dengan renaisans.[5]
Label:
ARTIKEL
28.1.15
SEKUNTUM BUNGA SOFI DARI DAHAN MAFIA THREE IN ONE
Oleh: Awalludin GD. Mualif
NOVEL sebagai bagian dari karya sastra, mempunyai bentuk dan proses penceritaanya sendiri yang terikat dalam hukum-hukumny sendiri. Proses dan bentuk yang menghasilkan kecemasan, ketakutan serta harapan, sebab akibat, penyampaian gagasan, nilai dan pesan-pesan dalam frame dan dunia yang diciptakan penulisnya. Seperti Tuhan yang menciptakan semesta, sebagai latar bagi manusia, demikian juga manusia (penulis) mencipta karya sastra, dimana unsur sastra menjadi latar bagi para tokoh-tokoh yang digambarkan oleh penulis.
NOVEL sebagai bagian dari karya sastra, mempunyai bentuk dan proses penceritaanya sendiri yang terikat dalam hukum-hukumny sendiri. Proses dan bentuk yang menghasilkan kecemasan, ketakutan serta harapan, sebab akibat, penyampaian gagasan, nilai dan pesan-pesan dalam frame dan dunia yang diciptakan penulisnya. Seperti Tuhan yang menciptakan semesta, sebagai latar bagi manusia, demikian juga manusia (penulis) mencipta karya sastra, dimana unsur sastra menjadi latar bagi para tokoh-tokoh yang digambarkan oleh penulis.
Label:
ESAI
Langganan:
Postingan (Atom)




