8.2.13

KAU DAN IBUMU

Tidurlah Nak, malam telah larut
Jangan tunggu ibumu yang tlah kabur
Nanti kalau kau sudah kelas 5
Kita bicarakan semuanya
Antara aku, kau dan ibumu

Berdoa Nak, doakanlah aku
Biar cepat dapat ibu baru
Yang nggak takut kukunya patah
Waktu nyuciin semua popokmu
Juga mandiin dan nyebokin kamu

QURAN AND ISLAMIC STUDIES


Oleh: Muhammad Mahrus


Pendahuluan
Kajian tentang orientalisme sudah dilakukan berulang-ulang sejak dari lahirnya kajian orientalisme sendiri lahir dan mulai berkembang. Di antara sekian banyak literatur, ada yang menyimpulakan bahwa wilayah kajian tersebut bermula sejak zaman daulah Islamiyah di Andalusia (Spanyol). Sebagian menyatakan bermulanya ketika terjadi Perang Salib. Khusus untuk orientalisme ketuhanan, munculnya ditetapkan secara resmi pada saat konsisi Gereja Viena tahun 1312 M. konsisi tersebut diaplikasikan dengan memasukkan mamteri bahasa Arab ke dalam berbagai universitas di Eropa.
Secara spesifik, pada tahun 1130, seorang kepala Uskup Toledo mulai menerjemahkan beberapa buku ilmiah Arab. Sedangkan kajian orientalisme mulai muncul pertama kali di Inggris pada pertengahan abad ke-18, pada tahun 1779. Kemudian Prancis menyusul pada tahun 1799. Sekitar 39 tahun berikutnya, pada tahun 1838, Orientalisme resmi masuk dalam kamus akademi Prancis.

RENDESVOUS

Kali ini, ijinkah aku mulai berjalan-jalan di rumahmu
Melihat sisi-sisi ruang yang barangkali dapat kusinggahi
Menjadi tamumu, yang tak kebetulan mengenalmu
Kelak, akan kita buat rumah sama yang baru

2013

4.2.13

DARI SECANGKIR DAN MEJA-MEJA KOPI

Dua hari yang lalu, di sebuah warung kopi, seorang kawan di meja sebelah berdebat dengan teman semejanya. Pastinya aku tak begitu paham tema perdebatan itu, karena memang begitulah tema perbincangan di secangkir kopi. Dalam semenit, bisa sampai ke Eropa atau Amerika...
Di meja yang lain, bahkan beberapa, mereka bikin kelompok beregu. Masing-masing empat orang. Jika pun lebih, sisanya adalah supporter. Seperangkat alat permainan sudah siap diputar dengan tangan-tangan lincah mereka. Ada intrik-intrik juga di sela permainan. Pun canda yang menurutku terlalu berlebihan. Tapi, masih saja mereka bertahan. Barangkali, itulah ajang kompetisi yang sebenarnya. Atau sebaliknya, mereka sedang mengantarkan diri mereka sendiri pada keterasingan. Pernah beberapa kali aku menjadi seperti mereka. Ya, hanya beberapa kali saja. Mungkin tak sampai lima kali. Meskipun hasrat untuk melakukannya, seringkali muncul ketika melihat mereka.

2.2.13

MALAM UNTUK ISTERIKU*

Oleh : Muhammad Mahrus **

Seorang kakek, yang menumpang menginap di rumahku suatu hari, kutemukan dalam kondisi tak bernyawa, tergantung. Awalnya aku curiga, kenapa hari sudah siang, tapi ia belum juga keluar dari kamar tamu. Waktu kuketuk kamar itu dengan pelan, tak ada jawaban dari dalam. Berulang kali kuketuk, berulang kali pula hanya burung kutilangku dalam sangkar yang menjawab dengan uhu-uhunya. Dengan perasaan gelisah, kuberanikan diri untuk mengetuk pintu itu lebih keras. Namun tetap tak ada jawaban dari dalam kamar.

Karena tak ada jawaban, aku pun mulai mempertanyakan kejanggalan tersebut. "Pergi tanpa pamit, sangat tidak mungkin, KTP-nya masih ada padaku," pikirku. Lagi pula, katanya, ia hanya dalam perjalanan ke desa sebelah. Karena kemalaman, ia menghampiriku yang kebetulan sedang duduk di teras rumah. Masih sangat jelas dalam ingatanku, "hanya semalam saja," katanya meyakinkanku.