14.12.13

POLITIK MUSLIM DAN RUANG LINGKUPNYA


Sebuah wacana politik:
 dalam perspektif Islam, sejarah, (dan) kebudayaan
 demi terbentuknya tatanan masyarakat
yang mandiri; tidak terkesan indekost di rumah sendiri.

Pendahuluan

Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa berlayar ke utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya arus dari utara semakin deras, membawa barang-barang baru, pikiran-pikiran baru, agama baru. Juga ke Tuban.

12.12.13

PMII; ANTARA TANTANGAN DAN HARAPAN



(Telaah atas Studi Historis PMII dan Positivisme August Comte)[1]
Oleh: Muhammad Mahrus[2]

Abstraksi
Dampak dari sebuah perdebatan panjang antara keinginan mahasiswa-mahasiswa NU, organisasi pelajar NU, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada dekade '50-an berujung lahirnya Organisasi Mahasiswa NU dengan nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960. Sejarah kelahiran PMII ditandai dengan maraknya iklim dependensi organisasi-organisasi mahasiswa terhadap organisasi atau partai politik tertentu. Pada saat yang sama, PMII menjadi gerakan underbow NU di bawah pimpinan Mahbub Djunaidi yang ditunjuk sebagai ketua umum dari 3 orang tim formatur. Dua lainnya adalah A. Cholid Mawardi yang menjabat Ketua I dan Said Budairy sebagai Sekretaris Umum PB PMII yang pertama kali.

2.12.13

SABTU MALAM YANG SEDERHANA


Jogja, 02 Desember
Baik, inilah suratku yang pertama untukmu. Surat yang takkan kukirimkan karena kau telah mengetahuinya. Karena ini adalah suratmu juga untukku, yang tak pernah kau kirimkan padaku. Itu keyakinanku. Sampai pada saat surat ini kubuat, serasa masih tidak bisa percaya bahwa pada pergantian bulan ini kita benar-benar bertemu. Ihwal keinginan untuk menemuimu senyatanya tak pernah lekang. Namun waktu harus benar-benar sepakat dan tepat.