Oleh: Muhammad Mahrus
-Satu-
Di sebuah dusun sederhana,
tanpa pipa PAM dan listrik bertenaga surya, tanpa banyak polusi udara, tanpa
pabrik-pabrik dan mini perumahan, tanpa perempuan dengan rok mini; di samping
mushalla tanpa jendela tempat anak-anak bermain sambil menunggu maghrib, aku
tinggal dengan sejarah. Isteriku, kurasa sudah cukup bahagia walau masih
harus berjalan kaki untuk sekedar mengantar makanan ke kaki-kaki gunung Semeru.
Tidak jauh, memang. Tapi juga tidak begitu dekat dari Semeru. Isteriku,
perempuan yang kupinang dari daerah pegunungan sekitar Sindoro itu, seakan
tiada lainnya.



